Lurah Tungkal Harpan Serahkan Kartu Indonesia Pintar kepada Siswa-siswi

Iklan Semua Halaman

.

Lurah Tungkal Harpan Serahkan Kartu Indonesia Pintar kepada Siswa-siswi

Sku Metropolitan
Selasa, 21 Juni 2016
Tanjab Barat – Metro - Kartu Indonesia Pintar (KIP) diberikan sebagai penanda dan digunakan untuk menjamin serta memastikan seluruh anak usia sekolah (6-21 tahun) dari keluarga pemegang KKS untuk mendapatkan manfaat Program Indonesia Pintar bila terdaftar di Sekolah, Madrasah, Pondok Pesantren, Kelompok Belajar (Kejar Paket A/B/C) atau Lembaga Pelatihan maupun Kursus.
 
KIP juga mencakup anak usia sekolah yang tidak berada di sekolah seperti Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS)  seperti anak-anak di Panti Asuhan/Sosial, anak jalanan, dan pekerja anak dan difabel. KIP juga berlaku di Pondok Pesantren, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat dan Lembaga Kursus dan Pelatihan yang ditentukan oleh Pemerintah.

Penyerahan Kartu Indonesia Pintar yang dilaksanakan di Kantor Lurah Tungkal Harapan (21/5) kemarin berjalan dengan tertib yang diserahkan langsung oleh Lurah Tungkal Harapan kepada siswa-siswa yang berdomisili di Tungkal Harapan, siswa-siswa tersebut tidak pulut didamping oleh wali murid.

Lurah Tungkal Harapan yang akrab dipanggil Usman mengatakan “Diharapan bantuan yang diberikan kepada siswa-siswa ini melalui Kartu Indonesia Pintar dapat berjalan dengan lanjar dan tepat sasaran sehingga anak-anak kita dapat belajar dengan rajin dan bantuan tersebut dapat berguna bagi anak-anak kita” paparnya.

“Sebagaimana kita ketahui, bahwa siswa-siswi merupakan generasi yang mendatang, keterkaitan kemajuan pembangunan mendatang amat penting kita perhatikan melalui generasi penerus kita, perhatian kepada siswa-siswi akan membawa mereka kemana arah tujuan mereka inginkan sehingga pendidikan yang sesuai minat mereka”. Ujar Lurah Tungkal Harapan.

Program Indonesia Pintar ini memiliki tujuan antara lain meningkatkan angka partisipasi pendidikan dasar dan menengah, meningkatkan angka keberlanjutan pendidikan yang ditandai dengan menurunnya angka putus sekolah dan angka melanjutkan, menurunnya 
kesenjangan partisipasi pendikan antar kelompok masyarakat, terutama antara penduduk kaya dan penduduk miskin, antara penduduk laki-laki dan penduduk perempuan, antara wilayah perkotaan dan perdesaan dan antar daerah dan meningkatkan kesiapan siswa pendidikan menengah untuk memasuki pasar kerja atau melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. (Johari)