Diusia 66 Tahun, Beberapa Kali Masih Tercemar Limbah

Iklan Semua Halaman

.

Diusia 66 Tahun, Beberapa Kali Masih Tercemar Limbah

Sku Metropolitan
Minggu, 14 Agustus 2016
Bekasi, METRO - Kabupaten Bekasi sebagai kota Penyangga Ibukota Negara mengalami kemajuan yang cukup pesat. Tetapi perkembangan pembangunan kawasan Industri dan perumahan tersebut tidak diimbangi pembangunan saranan pendidikan dan pemeliharaan lingkungan.

Pelaku industri di Kabupaten Bekasi masih banyak yang tidak mengolah limbahnya secara baik. Berbagai limbah terutama cair, dibuang begitu saja dalam ke aliran sungai Cikarang Bekasi Laut (CBL).

Kondisi ini terlihat disepanjang Kali CBL, air yang mengalir sudah berubah warna, kadang merah, hitam serta disertai busa putih. Diduga para pelaku Industri melakukan pembuangan limbah cair tanpa melakukan pengolahan. 

Hary, pemerhati lingkungan hidup menjelaskan, Kali CBL dimanfaatkan pelaku industry untuk membuang limbah. Hal itu bias terjadi karena pengwasan dari pemerintah daerah Kabupaten, dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup tidak maksimal melakukan pengawasan.

Lemahnya pengawasan Dinas Lingkungan hidup membuat pelaku Industri membuang limbah seenaknya, tanpa memperdulikan kepentingan masyarakat. Dinas lingkungan hidup sangat memahami dan mengetahui perusahaan yang menghasilkan libah B3. Pada saat pengurusan izin, perusahaan tersebut mengajukan permohonan yang dilengkapi dengan jenis usaha yang akan dilakukan. Tetapi karena kekurang pedulian terhadap lingkungan, Dinas Lingkungan hidup membiarkan pelaku industry membuang limbah semaunya. 

Di usia 66 tahun Kabupaten Bekasi diharapkan lebih matang dan perduli terhadap lingkungan. Ketegasan pimpinan dalam hal ini Bupati, sangat dibutuhkan agar pelaku industry tidak membuang limbah sembarangan, jelas Hary.

Menurut Hary, banyak pelaku usaha yang menggunakan air tanah dengan jumlah yang banyak, sehingga mengancam cadangan air masyarakat. "Masyarakat rugi, yang disedot air bersih, terus yang dibuang ke sungai air kotor (limbah). Ini mengambil hak hidup di masa akan datang," katanya.

Lemahnya penegakkan hukum menjadi salah satu penyebab membandelnya pelaku usaha tersebut. "Enggak ada perusahaan yang disetop buang limbah ini sembarangan. 

Lemahnya penegakkan hukum, memancing pelaku usaha untuk tidak melakukan pengolahan limbah dengan baik. tetapi penanganan limbah industri ini tidak bisa jika hanya mengandalkan penegakkan hukum saja.

Dibutuhkan kesadaran semua pihak untuk mengatasi persoalan limbah ini. Termasuk, masyarakat dan karyawan pabrik itu sendiri. "Karena kalau pabrik ditutup, mereka (pelaku usaha) menggunakan karyawan sebagai alasannya," katanya.

Berdasarkan pantauan, limbah cair yang mengandung bahan beracun dan berbahaya (B3), yang dibuang ke kali CBL menimbulkan bau menyengat. Warna air yang mengalir berwarna hitam, merah kadang meenimbulkan busa putih.

Beberapa warga yang ditemui disisi kali CBLmenuturkan, iar kali CBL tidak dapat digunakan, Karena kotor akibat limbah pabrik. Apabila perusahaan membuang limbah, baunya sangat menyengat hidung, biasanya maunya itu lebih sering terjadi di malam hari. Diduga perusahaan membuang limbahnya pada saat malam, tuturnya. (Jaminar)