Hutan Dirusak Pemkot Tutup Mata

Iklan Semua Halaman

.

Hutan Dirusak Pemkot Tutup Mata

Sku Metropolitan
Senin, 12 September 2016

BATAM, METRO - Pemerintah Kota Batam diduga tidak perduli dengan kelestarian hutan lindung, hal itu terbukti dengan dibiarkannya perusahaan melakukan pengrusakan tanpa ada perhatian dari Pemerintah. Seperti yang terjadi di Hutan lindung bukit di Bengkong Kartini, Kecamatan Bengkong.

Hutan tersebut hampir gundul dibabat oleh oknum perusa­haan, yang diduga tidak memiliki izin. Selain itu, tanah hutan itu digunakan untuk menimbun reklamasi di Harbour Bay.

Menurut Ketua RW 12, RT 01 Beng­kong Kartini, berinisial G, perusahaan tersebut sudah beroperasi sejak enam bulan lalu dan aktivitasnya telah meresahkan masyarakat. “Ta­hun 2014, kami pernah ke BP Batam menanyakan status lahan daerah sini, bukit itu masuk hutan lindung,” ujar­nya.

Dikatakannya, ia tidak mengetahui lebih jauh akti­vitas pengerukan bukit yang dilakukan oleh pihak peru­sa­haan itu, karena tidak ada melaporkan kegiatan ter­sebut. “Informasi yang saya dapat dari PT Jutam Read­ymic Concrete. Tapi, pihak perusahaan tidak pernah melaporkan kegiatannya ter­hadap kami, bahkan bero­perasi 24 jam,” tambahnya.

Informasi yang ia dapat­kan, katanya, perusahaan tersebut memperoleh izin dasar dari Kecamatan Batu­ampar, sementara bukit yang dikeruknya berada di daerah Bengkong. “Lucu juga, izin­nya dari Batuampar. Info­nya, tanah itu buat menim­bun reklamasi di Harbour Bay. Mungkin masih pakai izin lahan yang dikeruk di daerah Melcem, Batu­am­par,” kata­nya sembari tersenyum.
 
Sejauh ini, lanjutnya, belum ada tindakan dari pemerintah setempat terkait aktivitas tersebut. ”Warga yang bermukim dekat bukit mulai resah, tapi belum mau bertindak. Aktivitas cut and fill ini tidak terpantau, ka­rena lokasinya di tengah pe­mu­kiman warga,” jelasnya.

Sementara itu, Lurah Tanjung Buntung, Faisal saat dikonfirmasi mengatakan, ia pun menduga kegiatan cut and fill di Bukit Bengkong Kartini, memang tidak me­miliki izin Analisa Dam­pak Lingkungan (Amdal). “Tidak ada lapor ke kita, saat awal kegiatan saya pernah turun ke lokasi. Karena kita tidak ada wewenang masalah lahan, kemudian saya lapor­kan saja ke Polsek Beng­kong,” kata Faisal.

Menurut dia, per­ma­salah­an lahan itu sudah sejak lama. Warga yang bermukim di sekitar bukit itu sekitar 500 Kepala Keluarga (KK) de­ngan status rumah liar. “Saya kurang tau persis status lahan itu, kabarnya hutan lindung. Tapi, setelah itu milik PT Jutam Rea­dymic Concrete dan ada juga yang bilang PT Union,” ujarnya.

Dari penelusuran, truk-truk mengangkut tanah keru­kan bukit itu dibawa ke lokasi dekat Harbour Bay, Ba­tuam­par. Sementara itu, Kepala Bapedalda Kota Ba­tam, Den­di Purnomo belum menge­tahui kegiatan cut and fill di daerah tersebut. “Coba nanti saya cek dan lihat datanya di kantor,” ungkapnya. ( jhn )