Selain Untuk Pejalan Kaki dan Olahraga Masyarakat Pedestarian Juga Sebagai Penataan Kota

Iklan Semua Halaman

.

Selain Untuk Pejalan Kaki dan Olahraga Masyarakat Pedestarian Juga Sebagai Penataan Kota

Sku Metropolitan
Sabtu, 15 Oktober 2016

Bekasi, Metro - Pembangunan pedestrian di Kota Bekasi selain untuk akses pejalan kaki dan olah raga masyarakat juga sebagai penataan kota. Cukup besar menyedot anggaran karena itu untuk kepentingan masyarakat. Memang, tidak semua masyarakat merasakan dan hanya masyarakat sekitarnya saja.  
 
Hanya pada titik-titik tertentu. Seperti disepanjang jalan Ahmad Yani, kini sedang tahap pelaksanaan. Sepanjang Jalan Chairul Anwar persis depan kantor DPRD Kota Bekasi juga sedang tahap pelaksanaan pekerjaan dan sepanjang jalan Noer Ali. Jalan Ahmad Yani Kota Bekasi kini sedang ditata membuat pedestarian yang dapat dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk olah raga dan pejalan kaki. Anggarannya pun cukup besar sekitar Rp 25 miliar yang dikerjakan PT. Lagoa sebagai pemenang tender. Memang saat pelaksanaan menimbulkan banyak masalah dan probelema. Dari rusaknya berbagai utilitas jaringan bawah tanah, timbulnya kemacetan serta tudingan miring lainnya seperti proyek KKN. 

Namun hal itu tentu suatu kewajaran sebagai dampak pembangunan terutama pada pusat kota. Berbagai tudingan miring dan masalah yang timbul adalah menjadi motivasi membangun kinerja yang sesuai dengan  ketentuan. “Rintangan selalu ada dan itu wajar-wajar saja, bukan suatu hambatan, tetapi memacu untuk lebih baik. Semuanya menjadi motivasi,” kata pemerhati infrastruktur, Abilio Usesa.  

Menurut Abilio, proyek bernilai besar seperti pembangunan pedestarian di jalan Ahmad Yani  Kota Bekasi itu sudah barang tentu diterpa berbagai persoalan seperti terganggunya jaringan utilitas. Namun, itu hanya riak-riak saja untuk lebih kehati-hatian dalam melaksanakan kinerja. Berbagai sudut pandang negatif maupun positif mengarah pada pembangunan pedestarian jalan Ahmad Yani. Selain karena  anggarannya cukup besar juga berada pada pusat perkotaan sehingga banyak mengundang perhatian, pungkasnya. Yang berpandangan positif memuji kinerja perusahaan kontraktor yang melaksanakan pekerjaan. Sebaliknya, yang berpandangan negatif menuding kinerja kontraktor secara tehnis tidak sesuai ketentuan. Tetapi tudingan itu hanya dari kulit arinya saja tanpa didukung keakuratan fakta yang sebenarnya, kata Abilio Usesa.

Padahal kalau semua pihak menyadari untuk mendapatkan pekerjaan dengan nilai sebesar itu bukan hal mudah, tetapi berbagai analisa dan penilaian. Dari mulai kelengkapan administrasi, kemampuan bekerja terutama finansial. Semua melalui tahapan seleksi dan evaluasi yang matang dan profesional  secara terbuka dan akuntabel. Elektabilitas perusahaan yang memenangkan kompetisi lelang secara elektronik itu tentu sudah tidak diragukan baik kemampuan kinerja maupun finansial sehingga memutuskan dan menetapkankan sebagai pemenang kompetisi itu. Jadi tidak sembarangan, ujar Abilio.(Sardin)