Lembaga Pendidikan Harus Cetak Generasi Profesional Siap Kerja

Iklan Semua Halaman

.

Lembaga Pendidikan Harus Cetak Generasi Profesional Siap Kerja

Sku Metropolitan
Rabu, 09 November 2016
Purwakarta, Metro - Guna menghadapi persaingan industri yang semakin masif, Ketua DPR RI Ade Komarudin mewanti-wanti agar kurikulum pendidikan mampu mencetak generasi yang profesional dan unggul. Menurutnya kurikulum pendidikan yang tidak mampu menerjemhakan kebutuhan zaman hanya mencetak pengangguran baru. 
 Pernyataan tersebut dia sampaikan saat memberi sambutan di acara Peletakan Batu Pertama Pembangunan Pesantren tahap II (lanjutan) SMP dan SMK Multimedia dan Panti Yatim Berprestasi Yayasan Benteng Madani, di Purwakarta, Sabtu (5/11/2016). 
 "Jangan sampai pendidikan malah membuat mengganggur, tidak siap masuk dunia kerja, karena secara provesional diragukan. Kita akan kaji dengan benar kebutuhan pasar itu," jelas Akom, sapaan akrab Ketua DPR. 
 Akom menjabarkan, Kabupaten Purwakarta memiliki potensi yang besar, di daerah ini banyak perusahaan dan investor asing, di antaranya Korea, Jepang, India dan sebaginya. Tidak mau menyiayiakan potensi tersebut, Akom yang terpilih dari daerah pemilihan setempat memanfaatkan peluang dengan mencetak SDM lokal dengan keterampilan yang dibutuhkan industri.   "Karena kita akan kerjasama dengan para investor itu dengan pabrik-pabrik, sesuai dengan kebutuhan mereka. Kita lebih memilih kebutuhan pasar apa," jelas Akom. 
 Sekolah yang dibangun Akom dan keluarga bekerja sama dengan para rekan-rekanya adalah lembaga pendidikan vokasional yang berbasis pada tradisi pesantren. Pendidikan vokasional merupakan penggabungan antara teori dan praktik secara seimbang dengan orientasi pada kesiapan kerja lulusannya. Kurikulum dalam pendidikan vokasional, terkonsentrasi pada sistem pembelajaran keahlian (apprenticeship of learning) pada kejuruan-kejuruan khusus (specific trades).
 "Pendidikan vokasional tetapi berbasiskan pesantren, dan bagi yatim tentu tidak dipungut bayaran sampai sekolah menengah atas kejuruan. Diajarkan juga bahasa sesuai kebutuhan, bahasa Korea harus, karena investor Korea cukup banyak, kemudia juga Jepang, bahasa Inggris tentu harus, dan juga Arab, karena itu pesantren," papar Akom.
Saat acara peletakan batu pertama, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi juga turut serta menghadiri acara tersebut, dia menjelaskan saat ini mayoritas masyarakat purwakarta adalah kelas menengah. Hal ini ditopang dengan potensi perindusterian yang ada di Purwakarta. 
 Senada dengan Akom, Dedi pun akan mencetak dan mendukung sistem pendidikan yang menguatkan aplikasi. Menurutnya, teori dalam sekolah kejuaruan cukup dua tahun saja, selepas itu aplikasi lewat magang. Dia akan menjadikan industri yang ada di Purwakarta menjadi tempat magang para siswa. 
 Dedi pun berpesan agar pembangunan sekolah memperhatikan aspek lingkungan. "Ini prinsip. Agama mengajarkan sinergitas manusia dengan alam," ujarnya. 
 Akom juga menyampaikan pembangunan sekolah ini tidak berdasar pada motif pendidikan yang mencari untung dari peserta didik, ini semata-mata diniatkan sebagai amal jariah. "Ini bukan investasi dunia, ini investasi akhirat. Di dunia sudah cukuplah seperti ini tidak akan ada puasnya. Kita investasi amal, tidak motif lain," paparnya. (Simon)