PT. PAUL Diduga Cemari Lingkungan, Pemda Tutup Mata

Iklan Semua Halaman

.

PT. PAUL Diduga Cemari Lingkungan, Pemda Tutup Mata

Sku Metropolitan
Minggu, 13 November 2016
SAROLANGUN, METRO - PT Persada Alam Usaha Lestari (PAUL) mendapat sorotan dari masyarakat liam lestari, pasalnya sejak berdiri hingga saat ini, perusahaan yang bergerak dibidak kayu lapis tersebut kurang peduli terhadap kepentingan sosial masyarakat sekitar. Hal itu dikatakan Atik, warga liam lestari.
 
Atik menuturkan, perusahaan hanya mencari keuntungan saja tanpa memperdulikan masyarakat sekitar. Permohonan bantuan dari lingkungan sekitar  tak ada yang terealisasi, sementara perusahaan tersebut sudah memproduksi bahan baku ribuan kubik kayu olahan untuk ekspor ke luar. 

Seharusnya pengusaha mau peduli kepada wargasekitar,  untuk pembangunan sarana sosial kemasarakat. Seharus nya pabrik kayu lapis di Desa kami ini bisa mendongkrak perekonomian masarakat bukan sebaliknya. Masarakat hanya jadi penonton, sedangkan pengusaha meraup keuntungan berlimpah dari wialyah kami. 

Warga kami hanya terimbas limbahnya saja, sedangkan  manis dinikmati pengusaha.  Akibat aktipitas perusahaan, linkungan kami tercemar, apalagi systim penangulangan limba dari perusahaan tidak tertata dan terkelola degan baik.  Hampir setiap hari warga menghirup udara bau tak sedap, akibat terkena asap pembakaran limbah oleh PT Paul, tuturnya.

Ditempat terpisah hal senada diucapkan, Hj. Nurhuda, sejauh ini aktipitas yang dilakukan perusahaan PT Paul, telah merusak tanaman di dalam kebun kami, antara lain, Duren, Duku dan lain sebagai nya akibat tercemar limbah. 

Kami telah menunjuk salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk menyampaikan keluhan warga ke pemilik perusahaan. Tetapi hingga saat ini belum ada realisasinya, lahan kami terus di cemari. Kami mengharaapkan Pemerintah daerah mengkaji ulang  Amdal yang dimiliki oleh perusahaan. Banyak  sampah sampah berserakan disana sini, sedangkan sampah yang dibakar di dalam penampungan limba, tidak memiliki standar, apabila terjadi pembakaran, asap tersebut menyebar ke pemukiman warga. Kalau hal ini dibiarkam terus, maka masyarakat akan terseng penyakit ISPA. Saat ini perusahaan semakin tidak peduli terhadap pemeliharaan lingkungan.  Kami mengharapkan  Pemerintah Daerah mendegarkan keluhan kami, ujarnya.

Dia menambahkan, saat ini masarakat membuka ladang selalu dicegah dan di pantau oleh aparat penegak hukum untuk tidak membakar lahan. Sedangkan asap yang ditembulkan pembakaran oleh perusahaan selalu dibiarkan oleh penegak keadilan. Penguas jangan hanya berpihak ke pengusaha, sementara rakyat kecil selaalu menjadi korban.  

Ketiaka hal itu ingin di konfirmasi ke pihak perusahaan, belum bisa di temui begitu dihubungi melalui telepon selulernya, tidak aktip. (asmara/andra)