Ratusan Warga Desa Pariksabungan demo ke kantor Bupati

Iklan Semua Halaman

.

Ratusan Warga Desa Pariksabungan demo ke kantor Bupati

Sku Metropolitan
Sabtu, 19 November 2016
Tarutung, METRO - Akibat kurang ketegasan dari Pemerintah Daerah Tapanuli Utara untuk menetapkan tapal batas antar Desa mengakibatkan perseteruan diantara masyarakat dua desa mengklim lahan milik Desanya. Lahan seluas 160 hectare yang milik Desa Pariksabungan pada tahun 1952, dikelola Dinas Kehutanan. 
 
Pesatnya pembangunan membuat desa lain yang berbatasan dengan Desa Pariksabubangan mengklim bahwa lahan tersebut lahan desanya. Tetapi masyarakat desa Pariksabungan tetap mempertahankan lahan tersebut milik desa Pariksabungan karena jauh sebelum diserahkan ke Dinas kehutanan sudah dikuasao untuk Kolam dan penanaman Bayon (bahan membuat tikar) oleh warga desa Pariksabungan.

Dengan adanya pengakuan dari desa lain ratusan masyarakat Desa Pariksabungan Kecamatan Siborongborong Kabupaten Tapanuli Utara, demo ke kantor Bupati Taput di Tarutung.
Morton Lumbantobing, SH, selaku kuasa hukum masyarakat Desa Pariksabungan mengatakan, ada perbuatan yang semena-mena terhadap harta yang dimiliki masyarakat Desa Pariksabungan berupa tanah. Sampai saat ini warga tidak mengerti dan mengetahui siapa oknum-oknum yang melakukan jual beli tanah mereka dan siapa oknum yang melakukan pembuldoseran dengan alat berat di tanah warga.

"Masyarakat Desa Pariksabungan sudah merasa resah dengan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang telah membuldoser, mengkaplingkan serta menjual tanah klien kami", ujarnya.

Padahal sebelumnya pihak Pemkab Taput sudah pernah melakukan rapat kepada masyarakat Desa Pariksabungan dengan dihadiri pihak-pihak terkait dan menghasilkan suatu keputusan bahwa kedua belah pihak tidak boleh melakukan apapun di sana sampai ada keputusan inkrah dari pengadilan.

Tetapi realitanya kegiatan tetap terus dilakukan dengan menggunakan alat berat, hal itu kami duga salah satu indikasi untuk menghilangkan bukti bukti tapal batas kepemilikan mereka.

Pongat Simanjuntak (mantan Kades)  selaku penanggung jawab aksi menjelaskan jika tanah tersebut lebih kurang 160 hektare dan merupakan warisan dari nenek moyang mereka. Namun tanah tersebut saat ini tinggal 140 hektare, karena 20 hektare sudah diserahkan kepada pengusaha pabrik kopi dan nenas.

Sebelum tanah tersebut diserahkan kepada Dinas Kehutanan pada tahun 1952. Jauh sebelumnya tanah itu sudah dikerjakan warga dengan membuat kolam ikan, persawahan dan menanam ipon (bahan membuat tikar).

"Seiring waktu berjalan, kami menyurati Bupati Taput, untuk menyerahkan kembali tanah Pariksabungan dan Bupati setuju dengan bukti Pemkab bersama warga Pariksabungan menyampaikan surat permohonan kepada Menteri Kehutanan. Dan Menteri Kehutanan setuju mengembalikan tanah tersebut kepada masyarakat Pariksabungan", terangnya.

Namun, sampai saat ini pengunjuk rasa mengaku tidak mengerti mengapa Bupati Kabupaten Tapanuli Utara tidak juga mau menyerahkannya kepada masyarakat Pariksabungan, padahal tanah itu sekarang sudah diperjual belikan oleh oknum yang tidak ketahui warga.

"Kami meminta agar Pemkab Taput sesegera mungkin menyerahkan tanah tersebut kepada kami. Dan kami meminta kepada Bupati dan Kapolres agar memberhentikan kegiatan alat berat yang ada ditanah kami. Dan jika aspirasi kami ini tidak ditanggapi, seperti kata pepatah Habis Takut Timbul Berani. Jangan salahkan kami kalau terjadi sesuatu disana, karena kami menuntut hak kami bukan mengambil hak orang lain. Sampai titik darah penghabisan kami sudah siap", tegasnya.

Satya Darma Nababan selaku Kabag Tapem sekaligus Plt Assisten 1 Pemkab Taput yang menerima pendemo mengatakan jika aspirasi masyarakat akan ditindaklanjuti. Mereka akan koordinasi kepada pihak polres bagaimana untuk menghentikan kegiatan di sana. "Tuntutan masyarakat pariksabungan akan kita tindaklanjuti terlebih dalam menghentikan kegiatan yang ada di sana", kilahnya.

Pantauan Pelita Batak di lapangan setelah massa memberikan tuntutannya kepada Pemkab Taput, massa melanjutkan aksinya ke Kantor DPRD Kabupaten Taput.(Tim)