Wabup Prihatin Terhadap Harga Jual Pascapanen

Iklan Semua Halaman

.

Wabup Prihatin Terhadap Harga Jual Pascapanen

Sku Metropolitan
Rabu, 08 Maret 2017
 Tanjabtim – Metro - Harga jual gabah kering giling pasca panen yang selalu rendah dibumi sepucuk nipah serumpun nibung ternyata tidak hanya dikeluhkan petani. Wakil bupati Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), H Robby Nahliyansyah juga mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Hal ini menurutnya berdampak pada sulitnya Pemerintah daerah mempertahankan luasan lahan tanam padi sawah. Dia mengaku tertatih-tatih mengajak petani untuk tetap mau bersawah. Hal itu menurut Robby bukan kesalahan petani.

“Setiap panen hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Walau produksi meningkat tapi harga selalu terintervensi, sehingga sulit bagi kami Pemerintah daerah untuk membujuk petani mau tetap bertani padi. Jadi sebenarnya ketika sebagian besar beralih ke sawit itu sangat bisa dimaklumi, kita Pemerintah yang belum bisa menjamin harga pasca panen tetap baik,”kesal Robby di sela – sela panen penangkar padi hasil kerja kelompok tani Mekarsari Kelurahan Paritculum II kecamatan Muarasabak Barat, Rabu pagi (01/03).

Upaya kelompok tani seperti yang dilakukan kelompok tani Mekar Sari menurutnya patut diapresiasi tinggi. Kegiatan itu, meski di bawah pembinaan langsung Pemkab, harus diakui sangat mendukung upaya Pemerintah pusat dan kabupaten terkait pembenihan. Karena itu, dorongan Pemerintah untuk menghindari alih fungsi lahan salah satunya adalah bantuan benih, alsintan, dan saprodi. Harapannya, dengan hasil panen yang mencapai 4,2 ton per hektar, dari total 70 hektar luas tanam kelompok Mekarsari, akan dihasilkan minimal 70 ton benih Impara3 yang siap disebar bagi kebutuhan lokal Tanjabtim bahkan daerah sekitarnya. Sedangkan untuk tahun ini, selain kelompok tani Mekarsari juga ada penangkaran di Kelurahan Rano 

Muarasabak Barat, Desa Sinpangdatuk Kecamatan Nipahpanjang dan kecamatan Geragai.
Jika saat ini pembenihan baru mampu memproduksi Impara3 yang struktur berasnya pera, kedepan Wabup Robby berharap bisa dikembangkan varietas baru yang bersifat sebaliknya yakni pulen. Pasalnya, beras pulen cukup digemari juga di kalangan warga Tanjabtim. Robby menyarankan agar dijalin kerjasama dengan Balai Benih Induk atau Taman Teknologi 

Pertanian yang saat ini sudah berdiri di kawasan Kota Terpadu Mandiri Kecamatan Geragai.
Dengan fokus pada upaya penangkaran, Robby optimis hasil panen yang tadinya berorientasi konsumsi lalu dialihkan pada orientasi produksi benih, bisa lebih berdaya ekonomis. “Minimal untuk kebutuhan lokal Tanjabtim jika target pangsa pasar regional masih dianggap terlalu tinggi. Yang jelas target kita tahun ini Tanjabtim sudah mandiri benih,” tegasnya.

Soal keluhan harga gabah dan beras pasca panen, dijelaskannya tahun ini akan ada upaya kongkrit bersama Bulog. Hanya memang, beberapa hal prinsip belum mendapat titik temu. Misalkan soal pembangkan gudang Bulog, secara khusus Pemkab Tanjabtim berharap gudang bulog tidak dibangun di pusat kabupaten, melainkan langsung di sentra – sentra pertanian. Hal itu dimaksudkan untuk menekan cost produksi yang biasanya banyak terserap di sektor transportasi. Begitu pula soal kebutuhan raskin di sejumlah kecamatan. Wabup berpendapat cukup memungkinkan bagi Bulog untuk menerima beras produksi masyarakat di suatu kecamatan lalu disalurkan ke kecamatan lain penerima raskin. Dengan begitu Akan ada biaya angkut yang bisa diefisienkan.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Ahmad Maushul dalam laporannya menjelaskan bahwa dari 70 hektar lahan penangkaran yang dikelola kelompok tani Mekarsari, hanya 10 hektar yang bersumber dari APBN. Sisanya seluas 60 hektar adalah program APBD Kabupaten Tanjabtim. Masa tanam penangkaran sendiri normal 3,5 bulan dengan masa tanam awal di bulan Oktober sampai November 2016. Adapun yang bersumber dari APBN 

mencakupi bangunan gudang benih, lantai jemur, dan sejumlah sarana penunjang lainnya. “Implementasi dari program Seribu Desa Mandiri Benih tahun 2015,”jelas Maushul.
Keuntungan petani dipaparkan Maushul cukup signifikan. Tahun 2016 saja, kelompok tani tersebut berpendapatan Rp 162.000.000 per musim tanam. Estimasinya, dari total hasil penangkarannya, kelompok Mekarsari menghasilkan 21.600 kg benih padi yang dibeli oleh PT Pertani (BUMN) seharga 7500 per kilogram. Ini fakta bahwa budidaya padi cukup menjanjikan sepanjang ditekuni dengan serius. “Pemerintah daerah akan support hingga membantu mencari pasar pasca panen,”janji Maushul. (A. Fatta)