Terkait Dugaan Penjualan Kabel Telkom ” LSM - MAPI SEGERA MELAPORKAN KE POLDA METRO JAYA

Iklan Semua Halaman

.

Terkait Dugaan Penjualan Kabel Telkom ” LSM - MAPI SEGERA MELAPORKAN KE POLDA METRO JAYA

Sku Metropolitan
Minggu, 30 April 2017
BEKASI, METRO = PT.Telkom Indonesia Pusat terus berupaya untuk memperbaiki sarana dan prasarana agar pelayanan terhadap masyarakyat bisa berlangsung dengan baik. Tetapi program Perusahaan Negara itu diduga tidak mendapat dukungan dari oknum pejabat di daerah. Hal itu terbukti dengan adanya dugaan pengalihan kabel sebagai aset Telkom kepada orang lain.
 
Hal itu dikatakan Ketua LSM MAPI . (Monitoring Anggaran Pemerintah Indonesia) Surisman, baru-baru ini. Surisman menjelaskan, PT Telkom melakukan pengantian Kabel Primer ke Kabel Fiber Optic. Kegiatan tersebut  sudah berjalan sejak tahun 2015 dengan alasan meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat, tetapi Kabel Primer yang terbuat dari tembaga yang lama tersebut sedang proses penarikan oleh pihak Telkom, namun diduga disalagunakan oleh  Pihak Oknum Manager PT, Telkom Indonesia Kota Bekasi dengan Pihak rekanan, yaitu PT. Amui Jaya Nusa Solusi yang beralamat didaerah Jl. Desa Cibuntu Bekasi. 

Berdasarkan surat Izin masuk lokasi yang dikeluarkan MGR.SAS. Idris Sardi kepada pihak rekanan PT. AJNS, jenis pekerjaan yang diberikan tersebut adalah pekerjaan Rekondusi  Jalur Duct dan pengamanan sisa kabel primer bawah tanah, lokasi ijin yang diberikan pihak Telkom Kota Bekasi  tersebut berlokasi didaerah STO Jalan Raya Pondok Gede. Beberapa laporan dan informasi yang dihimpun LSM-MAPI, bahwa ada Oknum pejabat Telkom Kota bekasi yang bekerja sama dengan pihak rekanan untuk menggelapkan Kabel Primer yang berbahan tembaga, karena Kabel Primer tembaga tersebut  memiliki nilai jual yang cukup tinggi dipasaran.

Berawal dari informasi tersebut, kami membentuk, untuk melakukan melakukan Investigasi selama dua hari dilapangan d idaerah jalan Raya Pondok Gede, tepatnya pada tanggal 9/10 April. Pihak PT AJNS rekanan Telkom tersebut  melakukan pekerjaan sekitar Pukul 2.00 dini hari hingga pukul 4.00 subuh.
Namun pada saat pihak PT. AJNS melakukan pekerjaan tersebut dilapangan melibatkan banyak orang dari Ormas,  dengan jumlah personil sekitar 20 orang, sedangkan dalam surat izin yang dikeluarkan MGR SAS Idris Sardi hanya untuk 4 orang yang bisa masuk kedalam lubang untuk mengangkat/ menarik Kabel Primer yang sudah tidak terpakai tersebut.

Pengamatan Tim LSM dan wartawan SKU Metropilitan dilapangan, jenis kegiatan tersebut sebenarnya tidak tepat dikatakan adanya perbaikan, pasal nya yang kami pantau dilapangan atau lokasi, hanya penarikan Kabel Primer yang berbahan tembaga  yang sudah tidak terpakai, dan tidak ada kegiatan yang lain yang kami lihat, karena Kabel Primer tersebut telah diganti dengan Fiber Optic. Cara kerja yang dilakukan pihak PT.AJNS dilapangan, setibanya dilokasi, langsung mencongkel tutup kabel Telkom yang ada disisi jalan, atau yang disebut namanya oleh pihak PT.Telkom Manhole, tempat Kabel Primer yang ditarik tersebut berasal dari Manhole.

Cara menarik Kabel tersebut terlebih dulu ujung kabel primer diikat, setelah terikan dengan baik dan kuat baru di ikat kan ke Truck, lalu ditarik berlahan-lahan, setelah kabel tersebut sudah keluar, secara keseluruhan dari lobang/manhole dengan panjang sekitar 150 s/d 190 meter, baru ujung kaber tersebut kemudian diikatkan keatas mobil truck, setelah itu mobil Truck  mundur berlahan lahan hingga Kabel Primer tersebut tergulung secara otomatis diatas Truck, namun yang dapat muat didalam Truck hanya kabel dari dua lobang, setelah kabel tersebut sudah diatas Truck, supir Truck langsung bergegas melaju berjalan tancap gas ujar Surisman. 

Surisman menambahkan kecurigaan, bahwa kabel tersebut diduga dijual oleh oknum pejabat Telkom Bekasi kota kepada pihak rekanan, yaitu PT. AJNS, Pasalnya PT. AJNS telah mendapatkan surat ijin untuk memasuki lokasi Telkom.

 Ketika waratwan SKU Metropolitan  melakukan konfirmasi kepada pihak PT, AJNS melalui telepon selulernya,  Ugin Syarif Hidayat, mengatakan, bahwa kabel tersebut disimpan di gudang Telkom yang berlokasi di daerah Kecamatan Tambelang, hal senada juga dikatakan pihak pengawas lapangan dari Karyawan Telkom Indonesia atas nama Hairul Anwar

Tim investigasi LSM dan waratwan SKU Metropolitan melakukan Investigasi ke gudang Telkom yang di Tambelang, dan ternyata Security yang bertugas hari itu adalah atas nama Suwardi. Suwardi mengatakan, bahwa kabel yang dari Pondok Gede yang diambil PT.AJNS pada tanggal 9-10 tidak ada masuk ke gudang ungkap Suwardi, bahkan Suwardi sempat menanyakan apakah ada surat jalan/surat tugas terhadap Tim LSM dan Metro dari MGR.SAS Telkom,,? Ungkap Suwardi, jika tidak ada surat tidak bisa siapapun masuk kelokasi ini, tanpa surat ijin dari Pimpinan MGR SAS  Idris ungkap Sardi. Jika ada surat baru anda diperbolehkan masuk kedalam lokasi gudang ini ungkap Suwardi Security.

Ketika hal itu dikonfirmasikan ole wartaan SKU Metropolitan dan Ketua LSM- MIPA  ke pejabat Telkom di kantor Sto Jalan Juanda,  diterima MGR. SAS. Idris Sardi. Deputi Hamdani dan Yahya, pihaknya tidak dapat memberikan penjelaskan secara rinci dan transparan tentang keberadaan Kabel Primer tembaga yang diambil oleh pihak PT. AJNS.

Karena pejabat Telkom tidak bisa memberikan penjelasan, dugaan penjualan aset PT Telkom tanpa melalui proses yang diatur dalam Peraturan Pemerintah semakin kuat. Diduga Kabel Primer  tembaga tersebut dijual oleh oknum pejabat Telkom Kota Bekasi kepada pihak ketiga, jelas Surisman. 

Surisman menuturkan, penghapusan aset BUMN diatur dalam PP No.6 Tahun 2006 tentang pengelolaan barang milik Negara/Daerah dan Peraturan Menteri keuangan No.96/PMK.06/2007 Tentang tata cara pelaksanan penggunaan, pemanfaatan, penghapusan dan pemindah tanganan milik Negara,  juga diatur dalam Surat edaran Sekretaris Jendral Depertemen keuangan No.SE,231/51/2008, tentang tata cara penghapusan barang milik Negara dilingkungan Depertemen Keuangan dan seterusnya, ungkap Surisman kepada Metro.
Kami akan melaporkan temuan tersebut ke Polda Metro Jaya,  jika tidak ada penjelasan dari  GM Dwi Pratomo Juniarto alias Tomi secara trasparan sesuai aturan tentang keterbukaan informasi Publik. Pasalnya ketika kami ingin mengklarifikasi temuan dilapangan,  GM. Dwi, selalu melibatkan bawahan nya, Idris, Hamdani dan Yahya dan yang lain

Menurutnya dugaan kejahatan yang dilakukan Oknum Pejabat Telkom Bekasi dengan PT.AJNS, tidak tertutup kemungkinan Kabel Primer yang terbuat dari tembaga tersebut ada kaitannya dengan limbah kabel yang ditemukan di Jakarta tahun lalu, pasalnya, kabel Primer tersebut  terbuat  dari tembaga dan sangat mempunyai nilai jual atau berharga, harga tembaga tersebut saat ini dipasaran sekitar Rp.65 s/d 80 ribu/Kg, dan sangat gampang menjualnya  dengan cepat, sedangkan kabel tersebut jika setiap 1 meter dengan ukuran kapasitas besar mencapi 7 Kg/Meter, artinya dalam 1 meter jika di konversi ke Rupiah sekitar Rp.550,000,00-wajar jika kabel Primer tersebut menjadi incaran banyak orang.

 Namun perlu waspada pasalnya kulit kabel yang berada di gorong-gorong yang di Jakara tersebut secara kasat mata sangat mirip dengan Kabel Primer yang diangkat oleh PT.AJNS dari jalan raya pondok gede Kota Bekasi. Bahkan salah satu pimpinan Telkom Bekasi atas nama Hidayat mengatakan dan mengakui kepada kami, pihaknya lah yang mengambil /mengamankan Kabel Primer tersebut, dengan alasan untuk diamankan agar tidak hilang atau dimbil orang. Jika kita simak pernyataan Hidayat tersebut, sangat bertolak belakang dengan penjelasan GM.Dwi kepada salah satu Media terbitan Kota Bekasi belum lama ini, pasalnya GM.Dwi mengatakan pihaknya tidak pernah mengambil  atau mengangkat kabel Primer dimaksud, bahkan Dwi berkilah, yang berwenang mengambil/mengangkat kabel tersebut adalah pihak Telkom pusat ungkap Dwi, padahal nyata nya PT.AJNS yang mengambil Kabel tersebut atas persetujuan MGR. SAS.Telkom Kota Bekasi Idris Sardi. Sedangkan menurut informasi yang diterima Redaksi Metro, bahwa GM.Dwi sempat memberikan keterangan kepada  pihak penyidik polda Metro Jaya pada saat GM.Dwi masih menjabat dikantor Telkom Jakarta Pusat sekitar 3 bulan yang lalu. Ketika Metro menyambangi kantor Pusat PT.Telkom Indonesia dibilangan Gatot Subroto guna minta tanggapan  Direktur Utama PT.Telkom Indonesia Alexs J.Sinaga tidak berhasil, dengan alasan salah satu Staf nya Dirut  sedang  tidak berada ditempat, namun disarankan, agar datang hari lain saja dan  lebih pagi ujar nya kepada Metro. (TIM)