Terkait “Raibnya” Kabel Primer LSM- MAPI: Pimpinan Telkom Harus Tindak oknum Pejabat Telkom Bekasi

Iklan Semua Halaman

.

Terkait “Raibnya” Kabel Primer LSM- MAPI: Pimpinan Telkom Harus Tindak oknum Pejabat Telkom Bekasi

Sku Metropolitan
Selasa, 16 Mei 2017
BEKASI, METRO - Penggantian Kabel Primer ke Kabel Fiber Optic sudah berlangsung sejak tahun 2015, dengan tujuan  meningkatkan pelayanan terhadap Warga Masyarakat. Kabel Primer yang terbuat dari bahan tembaga  tersebut sedang proses penarikan oleh pihak Telkom Indonesia Kota Bekasi, melalui kerja sama dengan PT. Amui Jaya Nusa Solusi.

Diduga kabel primer yang diganti dengan Kabel Fiber Optic, telah dijual kepada pihak lain, dengan tujuan, PT.AJNS dan oknum pegawai Telkom mendapatkan uang dari hasil penjualan kabel tersebut. Padahal penjualan aset BUMN harus melalui prosedur yang telah diatur dalam Peraturan Pemerintah. Dana hasil penjualan aset tersebut masuk dalam kas negara, bukan masuk kekantong pribadi, hal tersebut diungkapkan salah satu pegawai Telkom, yang tidak berkenan disebut nama nya kepada Metro.

Lebih lanjut sumber menjelaskan, penarikan kabel tersebut dapat dilakukan pihak PT.Telkom dengan cara menunjuk pihak rekanan, namun setelah kabel ditarik pihak rekanan, kabel tersebut wajib dan harus disimpan atau dikumpulkan dalam gudang Telkom, setelah itu baru dapat dilakukan proses lelang secara terbuka kepada Masyarakat luas ungkap nya. Namun berdasarkan surat Izin masuk lokasi yang dikeluarkan MGR.SAS. Idris Sardi kepada pihak rekanan PT.AJNS. Tentang Jenis pekerjaan tersebut adalah pekerjaan Rekondusi Jalur Duct dan pengamanan sisa kabel primer bawah tanah, lokasi surat ijin yang diberikan pihak Telkom Kota Bekasi kepada. PT.NJNS tersebut untuk STO Jl.Raya Pondok Gede, jelasnya.

Berbagai informasi yang dihimpun LSM-MAPI dan Metro mengatakan, bahwa ada Oknum pejabat Telkom Kota bekasi yang bekerja sama dengan pihak rekanan PT. AJNS untuk menggelapkan Kabel Primer yang berbahan tembaga tersebut, karena Kabel Primer yang terbuat dari bahan  tembaga tersebut memiliki nilai jual yang cukup mahal dipasaran ungkapnya kepada Tim LSM dan Metro.

Hasil Investigasi selama dua hari dilapangan tempat pekerjaan tersebut didaerah jl.Raya Pondok Gede, pada tanggal 9/10 April. Pihak PT.AJNS rekanan Telkom tersebut melakukan pekerja dengan Modus Overandi, mulai melakukan pekerjaan sekitar Pukul 02.00 pagi dini hari s/d pukul 04.00 subuh. Namun pada saat pihak PT.AJNS melakukan pekerjaan dilapangan melibatkan banyak orang  dari Ormas dengan jumlah personil sekitar 20 orang, sedangkan dalam surat izin yang dikeluarkan MGR SAS Idris Sardi kepada PT. AJNS hanya untuk 4 orang untuk mengangkat/ menarik Kabel Primer yang sudah tidak terpakai tersebut.

Menurut hasil pemantauan Tim LSM MAPI dan Metro dilapangan, jenis kegiatan tersebut hanya Penarikan Kabel Primer berbahan tembaga  yang sudah tidak terpakai, dan tidak ada kegiatan lain atau pekerjan seperti yang dikatakan MGR. SAS Idris Sardi,  terlihat dilapangan, karena Kabel Primer tersebut telah diganti lebih dulu dengan Fiber Optic, baru penarikan kabel primer dilakukan. Cara kerja yang dilakukan pihak PT. AJNS dilapangan, setibanya dilokasi langsung mencongkel tutup kabel Telkom yang ada disisi jalan, atau yang disebut namanya oleh pihak PT.Telkom Manhole, tempat Kabel Primer yang ditarik tersebut berasal dari Manhole.

Cara menarik Kabel tersebut terlebih dulu ujung kabel primer tersebut diikat dengan tali, setelah di ikat dengan baik dan kuat, baru di ikat kan ke Truck, lalu ditarik berlahan-lahan. Setelah kabel tersebut sudah keluar secara keseluruhan dari lobang/ manhole dengan panjang sekitar 150 s/d 190 meter, baru ujung kaber tersebut kemudian diikatkan keatas mobil truck, setelah itu mobil Truck mundur berlahan lahan hingga Kabel Primer tersebut tergulung dan terkumpul melingkar diatas Truck, lalu supir Truck langsung bergegas melaju berjalan tancap gas.
Timbul kecurigaan bahwa, kabel tersebut diduga dijual oleh oknum pejabat Telkom Bekasi kota bersama-sama dengan pihak rekanan. PT. AJNS, Pasalnya, PT.AJNS telah mendapatkan surat ijin untuk memasuki lokasi Telkom.

Ketika Metro melakukan konfirmasi kepada pihak PT, AJNS kepada Ugin Syarif Hidayat sebagai penanggung jawab PT. melalui telepon selularnya, Ugin mengatakan, kabel tersebut ditaro di gudang Telkom di daerah Tambelang, hal senada juga dikatakan pihak pengawas lapangan Karyawan Telkom Indonesia atas nama Hairul Anwar. Metro sangat mencurigai tentang keterangan Ugin dan Hairul tersebut, akhirnya ke esok harinya Metro langsung  menyambangi gudang Telkom yang di Tambelang yang dikatakan tempat kabel tersebut disimpan, dan ternyata Security yang bertugas hari itu  Suwardi. Suwardi mengatakan, bahwa kabel dari Pondok Gede yang diambil PT. AJNS pada tanggal 9-10 tidak ada masuk ke gudang ini ungkap Suwardi.

Dengan demikian kabel primer tersebut diduga telah digelapkan pihak PT. NJNS bersama-sama dengan oknum pejabat Telkom.

Ketika hal tersebut dipertanyakan kepada  MGR. SAS.Idris Sardi dan Deputi Hamdani serta Yahya, pihaknya tidak dapat memberikan penjelaskan secara rinci dan transparan tentang keberadaan Kabel Primer tembaga tersebut disimpan, kuat dugaan bahwa Kabel Primer tembaga tersebut dijual oleh oknum pejabat Telkom Kota Bekasi  bersama-sama Rekanan Ugin ungkap Surisman.
Lebih jauh Surisman mengatakan kepada Metro, pengambilan Kabel Primer yang dilakukan PT.AJNS  kuat dugaan suatu sindikat kejahatan. Padahal cara-cara tersebut sangat bertentangan dengan aturan yang ada, Perlu diketahui untuk penghapusan aset BUMN diatur dalam PP No.6 Tahun 2006 tentang pengelolaan barang milik Negara/Daerah dan Peraturan Menteri keuangan No.96/PMK.06/2007 Tentang tata cara pelaksanan penggunaan, pemanfaatan, penghapusan dan pemindahan tanganan milik Negara, juga diatur dalam Surat edaran Sekretaris Jendral Depertemen keuangan No.SE,231/51/2008 tentang, tata cara penghapusan barang milik negara dilingkungan Depertemen Keuangan dan seterusnya ungkap Surisman.

Menyikapi pemberitaan Metro Politaan GM.Dwi Pratomo Junirto pada Surisman melalui pesan singkat mengatakan, berita tersebut adalah Fitnah, lebih kejam dari pembunuhan. Semoga Allah SWT, Tuhan semesta alam senantiasa memberi hidayah dan ampunan bagi mereka-mereka yang mengedepankan fitnah  kepada sesama manusia ungkap GM.Dwi. bahkan GM.Dwi mencontohkan Fakta: Sepeda saya terlihat dirumah orang lain. Apakah sepeda saya, dicuri, dipinjam, dibeli, saya sedang gunakan sendiri ujar Dwi. Pernyataan tersebut sangat tidak masuk akal, pasal nya sepeda murni milik pribadi GM.Dwi yang kepemilikan nya tidak diatur dalam peraturan pemerintah, dan pemilikanya adalah pribadi GM.Dwi dan bukan asset BUMN, tetapi Kabel Primer yang di ambil tersebut adalah milik Negara dan ada aturan pasalnya PT.Telkom Indonesia adalah Badan Usaha Milik Negara, bukan milik pribadi.

Padahal setiap penggunaan anggaran dan penghapusan aset telah diatur dalam berbagai mekanisme dan peraturan Pemerintah, kabel Primer tersebut terbuat dari tembaga mempunyai nilai jual atau berharga, harga tembaga tersebut saat ini dipasaran sekitar Rp.65 s/d 80 ribu/Kg, sangat gampang menjual nya  dengan cepat, sedangkan kabel tersebut jika setiap 1 meter dengan ukuran kapasitas besar mencapi 7 Kg/Meter, artinya dalam 1 meter jika di konversi ke Rupiah sekitar Rp.550,000,00- wajar jika kabel Primer tersebut menjadi incaran banyak orang termasuk oknum pejabat Telkom atau rekanan Telkom.

Ketika hal tersebut dikonfirmasikan kepada Ugin sebagai penanggung jawab PT.AJNS dengan tegas ugin mengatakan, bahwa kabel tersebut di taro di gudang Telkom di Tambelang ungkapnya melalui telepon genggamnya. Dari keterangan MGR.SAS. Idris Sardi dengan keterangan Ugin, maupun pernyataan Hayrul sangat bertentangan dengan pernyataan Suwardy, sebagai Satpam yang bertugas di kantor Telkom di Tambelang, pasalnya keterangan Suwardy bahwa kabel yang ditaro ke gudang tambelang tidak ada yang masuk dari Pondok Gede ujar Suwardy.


Ketika hal tersebut dikonfirmasikan ulang kepada Dirut Utama PT.Telkom Alexs J.Sinaga di kantor pusat dibilangan Gatot Subroto juga tidak berhasil, namun salah satu Staffnya menyarankan agar hal tersebut dikonfirmasikan kepada EGM.at PT.Telkom Indonesia Teuku Muda Nanta. Waktu yang bersamaan Metro menyambangi ruangan kerja Teuku Muda Nanta, namun juga sedang tidak berada ditempat, namun menurut informasi dari orang dalam Telkom mengatakan, yang langsung membawahi seluruh GM di Jabotabek adalah Teuku Muda Nanta ujarnya kepada Metro, sambil mengatakan, jika betul hal peristiwa tersebut terjadi di Kota Bekasi, itu bisa dipecat, Teuku Muda Nanta ujarnya sembari mengatakan, agar nama nya dapat dirahasiakan oleh Metro. (TIM)