Penjelasan dan Tanggapan Telkom

Iklan Semua Halaman

.

Penjelasan dan Tanggapan Telkom

Sku Metropolitan
Kamis, 06 Juli 2017
Berikut penjelasan dan tanggapan telkom: pemberitaan mengesankan seolah- olah pekerjaan infrastruktur dari kabel tembaga ke fiber optic dilakasanakan tidak melalui prosedur yang comply. 

Pada alinea 1 disebut, PT Telkom Indonesia Pusat terus berupaya memperbaiki sarana dan prasarana agar pelayanan terhadap measyarakat bisa berlangsung dengan baik. Tetapi program Perusahaan Negara itu diduga tidak mendapat dukungan dari oknum pejabat di daerah. Hal itu terbukti dengan adanya dugaan pengalihan kabel sebagi aset Telkom kepada orang lain.

Menurut analisa kami, paragaf diatas berupa opini negatif yang tidak disertai data dan fakta pendukung sehingga menyesatkan publik.

Pemberitaan mengesankan seolah olah terdapat oknum pejabat Telkom Bekasi yang terlibat dalam penjualan kabel tembaga.

Pada alinea 2 berita disebutkan: hal itu dikatakan Ketua LSM Mapi (Monitoring Anggaran Pemerintah Indonesia) Surisman, baru- baru ini. Surisman menjelaskan, PT Telkom melakukana penggantian kabel primer ke kabel Fiber Optik. Kegiatan tersebut sudah berjalan sejak tahun 2015 dengan alasan meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat, tetapi kabel Primer yang terbuat dari tembaga yang lama tersebut sedang dalam proses penarikan pihak Telkom, namun diduga disalahgunakan oleh pihak oknum Menager PT Telkom Indinesia Kota Bekasi dengan pihak rekanan, yaitu PT Amui Jaya nusa Solusi yang beralamat didaerah jalan desa Cibuntu Bekasi. 

Informasi yang diperoleh nara sumber tidak valid karena tidaak didukung oleh fakta atau data yang jelas, seperti informasi terkait kegiatan penggantian kabel promer ke kabel fiber optik yang telah berlangsung sejak 2015. Faktanya, penggantian kabel tersebut sudah berlangsung sebelum 2015. Selain itu, digaan penyalahguanaan oleh pihak yang disebut bersifat prematur, mengigat belum ada bukti yang kuat dan hanya dugaan nara sumber semata.

Pada alinea 3 berita disebut: berdasarkan surat izin masuk lokasi yang dikeluarkan MGR SAS Idris Sardi kepada pihak rekanan PT AJSN jenis pekerjaan yang diberikan tersebut adalah pekerjaan rekondasi jalur Duct dan pengamanan sisa kabel primer bawah tanah, lokasi ijin yang diberikan pihak telkom Kota Bekasi yang bekerjasama dengan pihan rekanan untuk menggelapkan Kabel Primer yang berbahan tembaga, karena Kabel Primer tembaga tersebut memiliki nilai yang cukup tinggi di pasaran.

Kalimat kedua “ beberapa laporan dan informasi yang dihimpun LSM- MAPI, bahwa ada Oknum pejabat Telkom Kota Bekasi yang bekerja sama dengan pihak rekanan untuk menggelapkan kabel Primer yang berbahan tembaga, karena kabel Primer tembaga tersebut memiliki nilai yang cukup tinggi di pasran” merupakan informasi yang tidak jelas sumber laporannya. Kalimat tersebut secara eksplisit menyebutkan tuduhan tanpa disertai bukti dan fakta pendukung.

Pada alinea  4 berita disebutkan: berawal dari informasi tersebut, kami membentuk tim untuk melakukan investigasi selama dua hari dilapangan di daerah jalan raya Pondok Gede  tepatnya pada tanggal 9/10 April. Pihak PT AJSN rekanan Telkom tersebut melakukan pekerjaan sekitar pukul 02.00 dini hari hingga pukul 04.00 subuh. 

Pekerjaan tersebut dilaksanakan pada malam hari hingga dini hari agar tidak mengganggu aktivitas masyarakat dan menghindari kemacetan di lokasi setempat. Selain itu, pekerjaan juga dilakukan sesuai dengan jam kerja yang tertera di surat Izin.

Pada alinea 5 berita disebutkan, namun pada saat pihak PT AJSN melakukan pekrjaan tersebut dilapangan melibatkan banyak orang dari Ormas, dengan jumlah personil sekitar 20 orang, sedangkan dalam surat izin yang dikeluarkan MGR SAS Idris Sardi hanya untuk 4 orang yang bisa masuk ke dalam lubang untuk menganggkut menrik Kabel Primer yang sudah tidak terpakai tesebut.

SKU Metropolitan tidak melakukan pengecekan ulang informasi di atas, karena 20 orang tersebut tidak dipastikan benar- benar sebagai personil di lapangan, hanya berdasarkan pengamatan dan kesimpulan sepihak SKU Metropolitan.

Pada laniea 6 berita, disebutkan, pengamatan Tim LSM dan wartawan SKU Metropolitan dilapangan. Jenis kegiatan tersebut sebenarnya tidak tepat dikatakan adanya perbaikan, pasalnya yang kami pantau di lapanganatau lokasi, hanya penarikan Kabel Primer yang berbahan tembaga yang sudah tidak terpakai, dan tidak ada  kegiatan lain yang kami lihat, karena Kabel Primer tersebut telah diganti dengan Fiber Optik. Cara kerja yang dilakukan pihak PT ANJS di lapangan, setibanya di lokasi, langsung mencongkel tutup kabel Telkom yang ada di sisi jalan atau yang disebut namanya oleh pihak telkom Manhole, tempat Kabel Primer yang ditarik tersebut berasal dari Manhole.
Mengklarifikasi aliena 6, dapat kami jelaskan bahwa, pekerjaan yang diberikan kepada mitra adalah pekrjaan rekondisi Duct, yaitu mempersiapkan saluran kabel yang rusak untuk dapat digunakan kembali, termasuk di dalamnya kabel tembaga (bila ada).

Pada alinea 8 berita, disebutkan, Surisman menambahkan, kecurigaan bahwa kabel tersebut diduga dijual oleh oknum pejabat Telkom Bekasi Kota kepada pihak rekanan, yaitu PT AJSN, pasalnya PT AJSN telah mendapatkan surat ijin untuk memasuki lokasi telkom.

Telkom tidak memahami arti alinea 8 karena kalimat- kalimat di atas tidak memiliki keterkaitan satu sama yang lain. Tentunya, mitra membutuhkan surat izin dari Telkom dalam menjalankan pekerjaannya.

Pada alinea 11 dan 12 berita, disebutkan, Ketika hal itu dikonfirmasi oleh wartawan SKU Metropolitan dan Ketua LSM MAPI ke pejabat Telkom di kantor STO  jalan Juanda, diterima MGR SAS Idris Sardi, Deputi Hamdani dan Yahya, pihaknya tidak dapat memberikan penjelasan secara rinci dan trasparan tentang keberadaan Kabel Primer tembaga yang diambil oleh pihak PT AJSN.

Karena pejabat Telkom tidak bisa memberikan penjelasan, dugaan penjualan aset PT telkom tanpa melalui proses yang diatur dalam Peraturan Pemerintah semakin kuat. Diduga Kabel Primer tembaga tersebut dijual oleh oknum pejabat Telkom Kota Bekasi kepada pihak ketuiga, jelas Surisman.

Tidak tepat jika SKU Metropolitan mengambil kutipan dari Tim SAS mengenaikeberadaan kabel. Karena lingkup pekerjaan dari Tim SAS adalah izin dan keamanan pekerjaan tersebut.

Pada alinea 13 berita, disebutkan, Surisman menuturkan, penghapusan aset BUMN diatur dalam PP No 6 Tahun 2006 tentang pengelolaan barang milik Negara/daerah dan Peraturan Menteri Keuangan No. 96/PMK.06.2007 tenyang tatacara pelaksanaan penggunaan, pemanfaatan, enghapusan dan pemindahan tanganan milik Negara, juga diatur dalam Surat edaran Sekretaris Jenderal Depatemen Keuangan No. SE 231/51/2008, tentang tatacara penghapusan barang milik Negara di lingkungan dan seterusnya, ungkapnya Surisman kepada Metro.

Sumber yang dikutip tidak kredibel, pasalnya Surat Edaran Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan No. SE 231/51/2008 tentang tata cara penghapusan barang milik Negara di lingkungan Departemen Keuangan merupakan aturan yang digunakan di lingkungan Kementerian Keuangan. Sementara pengaturan mengenai aset Telkom diatur oleh Kementerian BUMN, bukan Kemeneterian Keuangan.

Pada alinea 14 berita, disebutkan,   kami akan melaporkan temuan tersebut ke Polda Metro Jaya, jika tidak ada penjelasan dari GM dwi Pratomo Juniar alias Tomi secara trasparan sesuai aturan tentang keterbukaan informasi publik. Pasalnya, ketika  kami ingin mengklarifikasi temuan di lapangan, GM Dwi, selalu melibatkan bawahannya, Idris, Hamdani dan Yahya dan yang lainnya.

Narasumber informasi tersebut tidak jelas asal usulnya serta mengandung unsur ancaman, sehingga tidak sesuai dengan kode etik jurnalistik, khusunya asas praduga tak bersalah.

Pada alinea 15 dan 16 berita, disebutkan, dari diangkat oleh PT AJSN menurutnya, dugaan kejahataan yang dilakukana oknum Pejabat telkom Bekasi dengan PT AJSN, tidak tertutup kr,umgkinan Kabel Primer yang terbuat dari tembaga tersebut ada kaitannya dengan limbah kabel yang ditemukan di Jakarta tahun lalu, pasalnya kabel Primer tersebut terbuat  tembahag dan sangat mempunyai nilai jual atau berharga, harga tembaga tersebut saat ini dipasaran sekitar Rp 65 sd 60 Ribu/Kg, dan sangat gampang menjualnya dengan cepat, sedangkan kabel tersebut jika setiap 1 meter dengan ikuran kapasitas besar mencapai (7 Kg/meter) artinya dalam 1 meter jika dikonversi ke rupiah sekitar Rp 550.000,00- wajar jika kabel primer tersebut menjadi incaran banyak orang.

Namun perlu waspada, pasalnya kulit kabel yang di gorong- gorong yang di jakarta tersebut secra kasat mata sangat mirip dengan Kabel Primer yang dari jalan raya Pondok ged Kota Bekasi. Bahkan salah satu pimpinanTelkom atas nama hidayat mengatakan dan mangakui kepada kami, pihaknya lah yang mengambil/ mengamankan Kabel Primer tersebut dengan alasan untuk diamankan agar tidak hilang atau diambil orang, jika kita simak pernyataan Haidayat tersebut, angat bertolak belakang dengan penjelasan GM Dwi kepada salah satu M Media terbitan Kota Bekasi belum lama ini, pasalnya GM dwi mengatakan pihaknya tidak pernah mengambil atau mengangkat kabel Primer dimaksud, bahkan dwi berkilah, yang berwenang mengambil/mengangkat kabel tersebut adalah pihak telkom pusat ungkap Dwi, padahal nyatanya PT AJSN yang mengambil Kabel tersebut atas persetujuan MGR.. SAS. Telkom Kota Bekasi Idris Sardi. Sedangkan menurut informasi yang diterima Redaksi Metro, bahwa GM Dwi sempat memberikan keterangan kepada pihak penyidik Polda metro Jaya pada saat GM Dwi masih menjabat di kantor Telkon Jakarta Pusat sekitar 3 bulan yang lalu. 

Ketika Metro menyambangi kantor pusat Telkom Indonesia dibilangan Gatot Subroto guna meminta tanggapan Direktur Utama PT Telkom Indonesia, Alex J Sinaga tidak di tempat, namun disarankan agar dataang hari lain saja dan lebih pagi ujar nya kepada Metro (Tim).

Di paragraf ini, SKU Metropolitan beropini dengan menyatakan “ tidak tertutup kemungkinan...” kata- kata ini menggambarkan bahwa, SKU Metropolitan telah membuat suatu kesimpulan dan ini melanggar kode etik jurnalistik, bahwa media tidak boleh beropini atau menyimpulkan dari suatu kejadian.

Selain itu, SKU Metropolitan juga tidak menggunakan nara sumber yang kredibel. Pasalnya tidak ada nama pejabat Telkom Bekasi yang bernama Hidayat. Informasi mengenai GM Dwi pernah memberikan keterangan kepada penyidik polda Metro Jaya juga tidak ada kaitannya dengan pemberitaan ini.