Pelajar di Garut Masuk 25 Besar Lomba GeoInovation Boot Camp 2017

Iklan Semua Halaman

.

Pelajar di Garut Masuk 25 Besar Lomba GeoInovation Boot Camp 2017

Sku Metropolitan
Senin, 16 Oktober 2017


Garut, Metro
Menyisisihkan 250 kontestan se-Indonesia, 4 siswa pelajar SLTP (3 pelajar SMPN 2 Garut dan 1 pelajar Tsanawiyah Negeri Garut) masuk 25 besar inovasi terbaik di ajang Lomba GeoInovation Boot Camp 2017.

Atas keberhasilannya, Adilla Rachmawati Pradana, dkk. harus bersaing dengan 23 kelompok mahasiswa dan 1 kelompok SLTA, mereka Diundang oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) selaku penyelanggara untuk hadir pada kegiatan Bootcamp 2017 di Saung Dolken Bogor mulai tanggal 14 hingga 16 Oktober 2017. Keemapt siswa itu adalah Adilla Rachmawati Pradana, Rafli Muhamad Ridhwan, Rani Sandra (pelajar SMPN 2 Garut) dan Fathir Agung Cahya (Pelajar Tsanawiyah Negeri Garut).

Adilla Rachmawati Pradana, selaku ketua tim, didampingi pembimbingnya Dewis Akbar, menceritakan langkah aktualisasi inovasi bersama tiga rekannya, mulai dari penyusunan kuesioner, kemudian melakukan survey seluruh Siswa SDN Regol 10 Garut, selanjutnya diolah untuk memilih pelajar dari keluarga miskin dan menegah ke atas. Aplikasi yang dikembangkan dalam inovasi ini adalah setelah data lengkap, mulai dari nama, alamat, berikut kondisi rumah nantinya bisa diakses bebas oleh publik, terutama pihak donatur yang akan membantu pelajar yang kurang mampu. Meski demikian, aplikasi ini masih berbentuk prototipe yang bisa dikembangkan lebih luas lagi.

Prototipe yang dikembangkan dalam pemetaan ini sengaja dipilih SDN Regol 10, tiada lain untuk memberdayakan siswa, setelah mereka melanjutkan pendidikan ke tingkat selanjutnya, mereka bisa memanfaatkan ilmu ini untuk melakukan pemetaan dengan ide ataupun data lainnya.

“Kedepannya inovasi ini bisa dikembangkan dan diarahkan untuk memetakan data lainnya seperti data pertanian, peternakan, UMKM dan lainnya di pedesaan untuk mempercepat pengumpulan data geospasial di Indonesia”, kata Adilla.

Invovasi yang digulirkan oleh 4 siswa alumni SDN 10 Regol Garut Kota ini adalah Pemetaan Pelajar dari Keluarga miskin oleh Pelajar. Menurut Adilla, inovasi yang dikembangkan bersama 3 rekannya diinspirasi oleh banyaknya keluarga penduduk miskin yang berdampak kepada jumlah pelajar dari keluarga miskin yang rawan putus sekolah. Adilla memberikan bukti dari data UNICEF 2016, sekitar 2,5 juta anak putus sekolah karena masalah biaya sebanyak 47,3 % dan membantu orang tuanya bekerja sebanyak 31 %.

“Padahal semangat saling membantu rakyat Indonesia sebetulnya cukup tinggi. Salah satu bukti dari banyaknya donatur di Indonesia yaitu pada saat terjadinya peristiwa banjir bandang tahun 2016 di kabupaten Garut. Bahkan bila melihat aplikasi crowdfunding kitabisa.com Bapak Ridwan Kamil dapat mengumpulkan dana sebesar tujuhratus enam puluh lima juta lebih, padahal target awalnya cuman seratus juta. Namun penggalangan donasi secara online memiliki risiko yaitu salah satunya penyalahgunaan dana yang terkumpul, seperti pada kasus Cak Budi yang membeli Fortuner dan iPhone 7 memakai dana donasi”, Jelas Adilla dengan fasih.

Untuk mengatasi adanya risiko penyalahgunaan donasi, dirinya bersama 3 alumni SDN Regol 10 membuat inovasi Pemetaan Data Pelajar Dari Keluarga Miskin oleh Pelajar, dimana awal mula sistem ini berjalan dengan cara input data nama, alamat lengkap, koordinat GPS dan kondisi rumah pelajar berupa foto-foto. Dengan pemetaan ini diharapkan selanjutnya donatur tidak ragu dengan keadaan pelajar dan dapat langsung memberikan donasi kepada yang membutuhkan tanpa adanya perantara terlebih dahulu.

“Proses mencari calon pelajar penerima beasiswa pun diharapkan semudah mencari hotel, restoran dan tempat wisata dengan menggunakan aplikasi yang selama ini kita temukan. Aplikasi ini juga semoga memudahkan donatur mencari pelajar yang membutuhkan donasi yang berlokasi di lingkungan tetangga mereka secara lebih mudah, karena biasanya para donatur tidak mempunyai waktu untuk mencarinya karena berbagai kesibukan seperti pekerjaan, sehingga lebih memilih donasi secara online”, ujar Rafli Muhamad Ridhwan.

Kelengkapan data geospasial seperti data keluarga miskin masih kurang lengkap karena tenaga pemetaannya pun masih kurang. BIG sendiri mengakui tenaga pemetaan geospasial biasanya dilakukan oleh seorang Sarjana atau lulusan SMK yang belajar secara formal yang saat ini jumlahnya masih belum cukup memadai. Namun pada tahun 2015, BIG telah membuktikan siswa kelas 5 dan 6 juga bisa melakukan pemetaan restoran dan tukang juice menggunakan Android untuk pengumpulan sampah organik yang akan dikomposkan.

Semetara itu Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Garut menyambut baik gagasan dan inovasi yang dikembangkan empat orang siswa. Menurut Sekretaris Diskominfo, Drs. Diar Cahdiar, M.Si, keempat siswa ini pada saat duduk di SD tahun 2014 lalu telah berhasil merancang simulator gamelan dari barang bekas. Bahkan, karyanya ini berhasil memenangkan penghargaan tingkat nasional, Indonesia Information and Communication Technology Award 2014, diserahkan langsung Menteri Komunikasi dan Informatika waktu itu.


Menurut Diar, diharapkan dengan masuk 25 besar ini semakin memacu segenaserasinya untuk terus melakukan inovasi, terlebih inovasi ini dapat mempermudah pihak donatur yang mau membantu siswa yang kurang mampu. (Syaiful Noor)