Prihatin, Ruangan Belajar Dipisah Gordeng

Iklan Semua Halaman

.

Prihatin, Ruangan Belajar Dipisah Gordeng

Sku Metropolitan
Minggu, 14 Januari 2018

Bekasi, Metro.
Pemerintah mengalokasikan anggaran untuk pendidikan sebesar dua puluh persen dari anggaran APBN, tetapi kondisi sekolah di Kota Penyangga Ibu kota Negara masih ditemukan sekolah yang tidak mencukupi ruangan belajar. Agar kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung, pengelola sekolah membuat pembatas menggunakan gordeng.

Anggota Komisi IV DPRD Jabar, Hasbulah Rahmad yang membidangi pendidikan mengaku terkejut dan prihatin begitu mendengar pemberitaan mengenai kondisi kelas di SD Negeri Sirnajaya 02, Serang Baru, Kabupaten Bekasi yang hanya menggunakan pembatas gorden lantaran tidak adanya ruang kelas lagi untuk belajar bagi anak didiknya.

Hasbulah mengaku prihatin dan terheran-heran kenapa sampai selama 8 tahun, Pemkab Bekasi kurang peduli dengan kondisi pembangunan sarana dan prasarana pendidikan, seperti pembangunan sekolah dan ruang kelas.

“Dinas terkait harus segera menindaklajuti dengan melakukan penambahan lokal dan atau perbaikan fasilitas belajar mengajar agar siswa bisa nyaman belajar,” ucapnya.

Ia pun mengaku sudah menegur secara tidak langsung Bupati Neneng Hasanah Yasin dengan mengirim link berita mengenai siswa belajar menggunakan gorden ke WA  suami Bupati Bekasi.
“Kalau perlu diekspose terus agar sampai ke Bupati dan Pemkab Bekasi segera menindaklanjutinya, ” jelas Anggota DPRD dari PAN ini geram.

Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Bekasi, Nyumarno berjanji akan segera menindaklanjuti atas masalah tersebut. Terlebih sudah 8 tahun SDN Sinarjaya 02, Serang Baru tak memiliki ruang kelas yang memadai dan kondisinya memprihatinkan.

“Akan kita tindaklanjuti, kita akan minta Kepala Sekolahnya segera buat proposal di awal 2018 ini secepatnya. Agar nanti bisa masuk Musrenbang, dan 2019 bisa terealisasi,” kata Nyumarno kesal, saat diminta tanggapan, Kamis (11/1/2018).

Terlebih diketahui dari berita tersebut jika pihak sekolah sering mengajukan pembangunan ruang kelas namun tak pernah ada tanggapan dari Pemerintah Kabupaten Bekasi.

Sementara menurut pengakuan salah satu guru SDN 02 Serang Baru, Sri Murniasih selama ini berbagai pengajuan permohonan pembangunan telah diajukan, namun tidak pernah ada jawaban.
“Sejak 2009, pas tiga ruang kelas diambil oleh ahli waris, ruangan terpaksa dipisah sampai sekarang. Pengajuan agar dirombak terus diajukan tapi tetap saja seperti ini,” kata Sri Murniasih  yang telah mengajar di SDN Sirnajaya 02 sejak tahun 2001.

Para guru di sekolah tersebut mengaku kondisi sekolah sebenarnya tidak memungkinkan. Namun kegiatan belajar mengajar tetap dilakukan, sehingga berbagai trik dilakukan agar pelajaran bisa terserap oleh siswa meski belajarnya bersamaan dengan kakak atau adik kelasnya.

“Caranya kami  para guru bergantian. Jadi yang satu menerangkan, guru yang satu lagi menulis dulu di bor. Tapi memang kadang sulit juga. Misalnya saya mengkondisikan anak-anak biar tidak ribut, kelas sebelah yang ribut. Saya, guru-guru yang lain sama anak-anak jelas ingin ada perbaikan. Minimal, satu ruangan satu kelas, begitu saja dulu,” kata Ekawati, guru kelas IV ini.

Sementara itu, ketua DPC LSM Gema Rakyat Anti Korupsi (Grasi) malau, ketika diminta tanggapanya tentang keberadaan sekolah yang kekeurangan ruangan belajar menuturkan, Bekasi sebagai kota penyangga Ibukota Negara dan memiliki kawasan industry terbesar di Asean, sangat memalukan dengan kondisi sekeolah sepert itu. Sejak delapan tahun lalu siswa belajar harus dipisahkan dengan gorden, menunjukkan tidak adanya perhatian Pemerintah daerah terhadap pendidikan.

DPRD sebagai wakil rakayat seharusnya tanggap dengan keberadaan sarana pendidikan di wilayahnya. Setiap daerah ada wakil rakyat yang mewakili daerah itu. Kenapa wakil rakyat tersebut tidak mau memperhatikan sarana pendidikan? Katanya heran. (ely)