Kejari Cikarang Tangkap Tersangka Baru Kasus Korupsi Kredit Macet BTN

Iklan Semua Halaman

.

Kejari Cikarang Tangkap Tersangka Baru Kasus Korupsi Kredit Macet BTN

Sku Metropolitan
Jumat, 23 Maret 2018

BEKASI,METRO - Kejaksaan Negeri Kabupaten Bekasi menangkap seorang tersangka baru dalam kasus korupsi kredit macet di Bank Tabungan Negara Cikarang. Tersangka NA (36), ditahan usai diperiksa penyidik di Kantor Kejari, Cikarang Pusat, Kamis (22/3/2018).

“Hari ini kami menetapkan satu tersangka baru dalam kasus penyelewengan kredit macet Bank BTN Cikarang. Setelah kemarin dua oknum pegawai menjadi tersangka, sekarang seorang lagi berinisial NA, dia seorang debitur,” ucap Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari Kabupaten Bekasi Angga Dhielayaksa didampingi Kepala Seksi Intelijen Haerdin.

NA ditetapkan tersangka setelah penyidik melakukan pengembangan. Berdasarkan hasil pemeriksaan dua tersangka sebelumnya, yakni BW dan OI, serta sejumlah saksi, tersangka NA diduga terlibat.

Angga mengatakan, NA merupakan wisaswasta. Dia berperan sebagai pemohon pinjaman kepada Bank BTN. Namun, dalam prosesnya, terdapat beberapa unsur yang tidak sesuai aturan hingga mengakibatkan kredit macet. 

Ditambahkan Angga, NA telah dua kali mengajukan kredit ke Bank BTN sejak 2012 dan 2013. Meski demikian, lanjut Angga, peran NA dalam kasus tindak pidana korupsi ini terbilang berpengaruh. “Perannya cukup signfikan, berpengaruh. Dia sudah dua kali mengajukan kredit sebagai debitur, namun ada beberapa aturan yang dilewati,” ucapnya. 

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, NA dipanggil untuk diperiksa penyidik Kejari. Setelah diperiksa selama beberapa jam, NA akhirnya keluar dengan mengenakan rompi tersangka kuning. Sayangnya, awak media tidak diberi kesempatan meminta keterangan NA. Dengan dikawal dua petugas, NA kemudian dimasukkan ke dalam mobil hitam untuk ditahan di Rumah Tahanan Bekasi.

Angga pun tidak dapat menyampaikan informasi lebih lanjut terkait tersangka NA, termasuk nilai kredit yang diajukan NA serta kemungkinan adanya tersangka lain. “Jumlah uang yang dipinjam belum bisa kami sampaikan karena itu sudah masuk dalam materi kasus. Begitu juga kemungkinan ada tersangka lain, belum bisa disampaikan. Yang jelas kami terus telusuri ini, dan perkembangannya akan kami sampaikan,” ucap dia.

Seperti diketahui, kasus korupsi di tubuh Bank BTN Cikarang terjadi selama dua tahun, yakni 2012 dan 2013. Penyidik menemukan adanya persekongkolan antara oknum pegawai Bank BTN dengan pihak luar untuk mencairkan bantuan kredit. Namun, tindakan tersebut akhirnya memunculkan kerugian negara setelah kredit tersebut dinyatakan macet.

Persengkongkolan antara oknum bank dan pihak luar itu dilakukan untuk memangkas segala bentuk tahapan yang ditetapkan bank sebelum pencairan kredit. “Jadi modusnya itu secara kasar ada kredit macet, pemohon mengajukan kredit ternyata tidak sesuai aturan,” ucap Angga.

Berdasarkan hasil penghitungan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan, kasus korupsi Bank BTN merugikan negara hingga Rp 6,5 miliar. Praktik ini pun diduga, melibatkan lima pemohon kredit. Di antara pemohon tersebut, jumlah kredit yang diajukan berkisar antara Rp 500 juta hingga Rp 3,7 miliar. “Kredit yang diajukan berkisar demikian, rata-rata pemohon ini bergerak di bidang perumahan,” ucapnya.

Seperti dua tersangka lainnya, lanjut Angga, tersangka NA diancam pasal 2 ayat 1 junto pasal 3 Undang-undang 31 tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi. “Ancamannya hukumannya 20 tahun dengan denda maksimal Rp 1 miliar. Untuk selanjutnya kami terus lakukan penyidikan untuk mengetahui kemungkinan lainnya,” ucap dia. (Ely/Martinus)