Virus HIV/AIDS di Kabupaten Subang Memprihatinkan

Iklan Semua Halaman

.

Virus HIV/AIDS di Kabupaten Subang Memprihatinkan

Sku Metropolitan
Rabu, 11 April 2018
SUBANG, METRO. - Berdasarkan data temuan  kasus yang teridentifikasi virus HIV/AIDS di wi layah Kabupaten Subang hingga akhir tahun 2017 lalu hingga kini, berjumlah mencapai seba nyak 1643 orang, perkembangannya cukup memprihatinkan dan selain yang mengindap hampir rata-rata usia produktif juga balita dan bumil.



Hal ini dikatakan Ketua Harian Komisi Penang gulangan AIDS (KPA) Subang, H. Abdurrakhman dihadapan peserta rapat koordinasi KPA Su bang di Grant Hotel, Selasa (10/4/2018).

Menurutnya, jumlah yang ditemukan mencapai 1643 kasus dan terbanyak masih usia produk tif  20 - 29 tahun. Bahkan ada yang masih balita termasuk ibu hamil.

"Kita sangat prihatin padahal sudah memiliki Perda dan Perbup Penanggulangan HIV Aids. Untuk itulah diperlukan adanya dukungan pe nanggulangan baik melalui anggaran di ma sing2 dinas instansi lembaga sesuai tupoksinya masing masing," ungkap Abdurrakhman yang juga menjabat Sekda Subang.

Kendati kedepan penanggulangan HIV AIDS  akan semakin berat karena seiring dengan per tumbuhan industri, pelabuhan Patimban dan akses perekomian global. Hal ini akan muncul dampak negatifnya dan yang paling penting bagaimana agar muncul kesadaran masyarakat untuk tes HIV dan tidak ada stigma macam-ma cam terhadap pengidap atau orang hidup deng an HIV AIDS.

Kepala Bidang P2PL Dinkes Subang, Dr. Noni Indriati Oetama mengakui kalau diskriminasi masih ada, namun petugas kesehatan lapangan terus melakukan penjelasan.

"Slogan, sekarang saya berani, saya sehat, hingga banyak yang memeriksakan diri. Termasuk kesadaran ODHA juga meningkat untuk berobat," katanya.

Kemudian dari Akademisi (UNSUB) Universitas Subang, Nuraida, S.Ip.,M.Si mencatat kalau per kembangan penyakit itu setiap 5 tahun mening kat 32%. "Kalau koordinasinya seperti sekarang akan se makin 'mengerikan' perkembangannya sepuluh tahun mendatang," katanya.



Menurutnya apa bila pembuat kebijakan berja lan seirama dan benar benar menjalankan atu ran dari Mendagri, Kemenkes yang telah ditin dak lanjuti dengan Perda dan Perbup.



"Bila sebaliknya terbukti anggaran tidak jelas atau sedikit termasuk sumber daya manusia nya, kasus terus meningkat," pungkasnya. (DS/Abh)