DPO Kejari, Mantan Anggota DPRD Subang, Akhirnya Tertangkap

Iklan Semua Halaman

.

DPO Kejari, Mantan Anggota DPRD Subang, Akhirnya Tertangkap

Sku Metropolitan
Kamis, 24 Mei 2018


SUBANG, METRO- Ade Suhaya mantan anggota DPRD Kabupaten Subang, dari Fraksi Partai Demokrat, setelah berbulan-bulan lamanya menghilang dan masuk dalam  Daftar Pencarian Orang (DPO) Kejaksaan Nege ri (Kejari) Subang, Terjerat kasus korupsi Ban sos perikanan senilai Rp 2,9 Miliar.  akhirnya berhasil di ditangkap, Senin lalu (14/5/2018) di sebuah Ruko Kawasan Cika rang Selatan, Be kasi, Jawa Barat, saat sedang bersama teman nya.

Ade Suhaya Sedang Digelandang Tim Kejari Subang

Ade Suhaya sedang digelandang tim Kejari Subang, tampak didepan sebelah kanan bawah berpakaian Kamera tangan panjang abu-abu.


 
“Ade Suhaya (AS) saat ditangkap sedang bersa ma seorang temannya yang merupakan pengu saha dan AS, kita tangkap pasrah tak melawan,” ungkap Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pid sus), Taufik Effendi didampingi Kepala Seksi Intelijen (Kasi Intel), Kejari Subang, Bagas Sa songko, kepada Awak Media, Selasa (22/5/ 2018).

Kemudian AS, selain mantan anggota Dewan juga merupakan adik dari Cabup Kab. Subang,  Ruhimat dan juga AS setelah ditetapkan menja di tersangka kasus Bansos perikanan, AS meng hilang menjadi buronan atau DPO Kejari Subang ,itu sudah dieksekusi ke Lapas Subang. Kendati kemungkinan adanya indikasi pihak yang mem bantu AS melarikan diri atau membantunya ber sembunyi selama buron atau menjadi DPO, kejaksaan be lum dapat memastikannya. 

“Kita akan pelajari kemungkinan-kemungkinan adanya upaya lain hingga buronan,” ucapnya.

Menurut Taufik, itu in absential, setelah AS dite tapkan sebagai tersangka malah menghilang tak pernah mengindahkan panggilan melain kan menjadi DPO karena itu  penangkapan ter hadap AS merupakan amar putusan pengadi lan, yang telah memvonis terpidana AS dengan hukuman lima (5) tahun penjara dan denda Rp200 juta, dalam perkara korupsi bantuan sosial (bansos) di Dinas Kelautan dan Perika nan (DKP) Subang tahun anggaran 2014.

“Terpidana AS ini merupakan pengembangan dari kasus korupsi dana bantuan sosial Dinas Perikanan tahun 2014 senilai Rp2,9 miliar yang didistribusikan kepada puluhan KUBE (kelom pok usaha bersama),” katanya.

Selain itu AS, jauh sebelumnya Pengadilan Tipi kor Bandung telah memvonis tiga terpidana dalam perkara korupsi ini, yakni mantan Kepala UPTD Perikanan Iryana, tim verifikasi bansos Dinas Perikanan Oman, dan pejabat Bagian Sosial Setda Subang Endang Juharya.

Selanjutnya Taufik menjelaskan, dalam perkara korupsi itu, AS sebagai mantan anggota DPRD, berperan memperdagangkan pengaruhnya dengan menyuruh orang-orang, dalam hal ini calon penerima bantuan, untuk membuat pro posal fiktif yang diajukan ke Dinas Perikanan.

Kendati kemudian setelah bantuan cair dan da nanya diterima oleh pihak-pihak yang disuruh oleh AS (kelompok-kelompok usaha bentukkan AS), tiba-tiba AS meminta kembali uang (ban sos) tersebut dengan alasan untuk mengurus perkara di Kejaksaan. Padahal, faktanya tidak pernah ada.

“Saat itu, (proses hukum) perkara Oman dan kawan-kawan (kasus bansos) sedang berjalan. AS meminta kembali uang (bansos) tersebut dengan alasan untuk mengurus perkara di Kejaksaan, padahal faktanya enggak pernah ada, ini sudah dibukti kan di hadapan majelis hakim dengan adanya kwitansi-kwitansi permintaan uang oleh AS ke pada pihak-pihak yang disuruhnya terkait perka ra Oman yang saat itu sedang berjalan,” papar nya.

Terkait soal keterlibatan AS pada perkara korup si bansos itu, kemudian ditindaklanjuti oleh ke jaksaan dengan melakukan penyelidikan dan pe nyidikan. Awal penyelidikan, AS bersikap koope ratif dengan cara datang memenuhi panggilan kejaksaan. Begitupun pada saat perkara dinaik an statusnya ke tahap penyidikan, AS juga ada. Namun, setelah ditetapkan sebagai tersangka, tiba-tiba AS melarikan diri.

“Ya, tiba-tiba selah ditetapkan sebagai ter sangka AS, menghilang menjadi buronan dan masuk dalam daftar pencarian orang (DPO),” katanya.

Kemudian menghilangnya AS pasca ditetapkan sebagai tersangka ini, terus berlanjut selama masa persidangan yang berlangsung sejak Sep tember 2017, bahkan hingga saat pengadilan menja tuhkan vonis pun, AS tidak pernah hadir.

“Saat itu, perkara ini kita sidangkan di Pengadi lan secara in absentia atau tanpa dihadiri AS selaku terdakwa. Kendati begitu, sidang in ab sentia ini tetap dilanjutkan agar ada kepastian hukum dan supaya proses hukum bisa segera tuntas,” beber Taufik.

Selanjutnya pihaknya menegaskan, penetapan sidang seca ra in absentia ini sudah melewati beberapa taha pan, mulai dengan melakukan tiga kali pemang gilan secara berturut-turut terhadap terdakwa, menyebar informasi soal terdakwa melalui me dia, memasang pengu muman di instansi peme rintah, hingga terma suk mengupayakan pihak keluarganya untuk mewakili hadir dipersidang an, namun mereka tidak hadir.

“Kita coba hingga sidang penetapan vonis dan setelahnya pun, yang bersangkutan tidak ada. Maka, demi menjalankan amar putusan penga dilan ini, melalui program Tabur atau tangkap buronan, kami terus bergerak melacak kebera daan terpidana ini, dan kemudian petugas ga bungan intel, pidsus serta pidum berhasil me ngetahui keberadaan yang bersangkutan di wilayah Cikarang Selatan. Kita lalu menangkap nya di sebuah ruko tanpa ada perlawanan. Saat ditangkap, yang bersangkutan sedang bersama temannya. Saat ini, AS sudah dieksekusi ke Lapas Subang,” pungkasnya. *Ds/Abh*