ASN Digrebek Di Rumah Seorang Janda

Iklan Semua Halaman

.

ASN Digrebek Di Rumah Seorang Janda

Sku Metropolitan
Selasa, 17 Juli 2018


Tulungagung, Metro- Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung akhirnya memproses pegawai ASN berinisial PS di lingkungan Puskesmas Tunggangri Kalidawir Tulungagung, yang tertangkap basah menginap di rumah seorang janda. 

ilustrasi
Warga Pagersari itu tertangkap basah menginap di rumah janda berinisial AI di dusun Bonsari Desa Betak Kalidawir saat Ramadhan lalu. Kini, dia diproses dan dilakukan pembinaan.
"Sudah kita panggil, dalam istilah kita namanya pembinaan," kata Sekretaris Dinas Kesehatan Tulungagung Bambang Triyono

Dinas Kesehatan selaku institusi yang menaungi juga telah menyiapkan sanksi bagi PS yang diketahui telah melakukan perselingkuhan hingga ditangkap warga.

"Saya sendiri yang manggil dia (PS), Tunggu paling minggu depan surat tugasnya disampaikan," terang Bambang.

Bambang kembali meyakinkan jika PNS tersebut memang sudah dipanggil dan telah dilakukan klarifikasi atas kejadian tersebut. "(Sanksi) nanti jika surat sudah saya sampaikan saya Informasikan lagi," tambahnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Perselingkuhan PNS dengan warga di Bonsari ini sudah berjalan tahunan, bahkan pihak pelaku mengaku sudah nikah siri.

Meski berjalan tahunan, warga mendiamkan hal itu pasalnya alasan nikah siri yang menjadi kedok keduanya masih belum diketahui kejelasannya. Baru setelah terkonfirmasi bahwa PS masih berstatus suami sah dari istrinya di Pagersari, maka warga langsung melakukan penggerebekan.

Pihak istri sahnya hingga kejadian itu tidak tahu soal nikah siri yang dilakukan suaminya, baru tahu setelah terbongkarnya masalah dan kedua pelaku dibawa ke Kantor desa Betak

PS sering terlihat datang menggunakan sepeda motor dan masuk rumah Janda itu, namun karena mengaku nikah siri maka warga dibiarkan.

Kepala Desa Betak, Catur Subagyo membenarkan adanya kasus penangkapan warga yang sedang kumpul kebo di desanya. "Sebenarnya sudah kita ingatkan tetapi masih tidam mempedulikan karena kita masih menghargai akan kedudukannya," kata Catur.

Pihak desa Betak akhirnya menghadirkan kepala desa Pagersari dan keluarga PS ingat menyelesaikan masalah tersebut. Hasilnya, meski mereka mengaku suka sama suka, hukum adat berupa sanksi moral diterapkan agar keduanya jera dan tidak melakukan perbuatan yang dapat mengotori norma bermasyarakat tersebut. "Jelas ada sanksi moral dari warga, jika sanksi lain karena mereka ASN maka itu menjadi kewenangan atasan mereka," pungkas dia. (sar/jon)