Ethnic Carnival Pertegas Kearifan Budaya Lokal

Iklan Semua Halaman

.

Ethnic Carnival Pertegas Kearifan Budaya Lokal

Sku Metropolitan
Rabu, 15 Agustus 2018

TRENGGALEK, METRO - Trenggalek Ethnic Carnival kembali digelar untuk memeriahkan HUT ke-73 Republik Indonesia dan Hari Jadi ke-824 Kabupaten Trenggalek, Sabtu (11/8/2018). Digelarnya Ethnic Carnival bertujuan mempertegas ragam warisan budaya lokal di Trenggalek maupun penjuru tanah air pada umumnya yang patut dilestarikan.

Dalam pawai Ethnic Carnival tersebut ditampilkan berbagai macam kesenian yang merupakan warisan budaya bangsa Indonesia. Diantaranya adalah Turonggo Yakso, yang merupakan kesenian asli Kabupaten Trenggalek. Turonggo Yakso yang pada awalnya bernama seni "Baritan" tersebut merupakan sebuah ritual yang dilakukan oleh masyarakat kecamatan Dongko sejak lama.

Turonggo Yakso menggambarkan tentang kemenangan warga dusun dalam mengusir marabahaya atau keangkara murkaan yang menyerang kampungnya. Turonggo Yakso sedikit berbeda dengan seni jaranan lain karena kuda yang ditumpangi berwujud kuda berkepala raksasa, yang menggambarkan keangkara murkaan.

Selain Turonggo Yakso, juga ditampilkan dalam Ethnic Carnival adalah seni Tiban, yang lekat dikenal dengan tari meminta hujan. Berasal dari kata dasar “tiba” yang dalam bahasa Jawa berarti jatuh, Tiban mengandung arti timbulnya sesuatu yang tidak diduga sebelumnya. Dalam konteks dengan peristiwa tersebut, maka Tiban merujuk pada hujan yang jatuh dari langit, yang dalam bahasa keseharian masyarakat lokal disebut "udan tiban".

Tiban merupakan tari atau ritual rakyat yang turun temurun menjadi bagian kebudayaan masyarakat Jawa Timur, terutama di daerah Trenggalek, Blitar, Kediri dan Tulungagung. Seni Tiban merupakan tarian saling sabet ujung pecut dari lidi aren, yang dimaksudkan sebagai permohonan kepada yang Maha Kuasa berharap diturunkanya hujan.

Selain kesenian, Trenggalek juga kaya akan tradisi ritual yang turun temurun mengakar di masyarakat. Seperti tradisi Nyadran yang merupakan sebuah tradisi upacara adat bersih Dam Bagong yang dibagun oleh Adipati Menaksopal. Juga Larung Sembonyo yang merupakan tradisi ungkapan rasa syukur masyarakat nelayan akan hasil laut yang melimpah.

Kesenian maupun upacara adat tersebut dikemas dalam bentuk pawai Trenggalek Ethnic Carnival 2018. Selain kearifan budaya lokal, juga masih banyak lagi budaya tradisional bangsa Indonesia yang disuguhkan kepada pengunjung Trenggalek Ethnic Carnival.

Antusias warga terhadap Trenggalek Ethnic Carnival begitu luar bisa. Terlihat ribuan penonton dari dalam hingga luar Trenggalek, memadati sepanjang rute Ethnic Carnival. Tahun ini Trenggalek Ethnic Carnival diikuti oleh peserta mulai dari tingkat SD/MI,  SMP/MTs, SMA/SMK/MA dan peserta umum. (Sar)