Ubhara “Tolak” Calon Mahasiswa Ijazah Paket C

Iklan Semua Halaman

.

Ubhara “Tolak” Calon Mahasiswa Ijazah Paket C

Sku Metropolitan
Rabu, 29 Agustus 2018


BEKASI, METRO – Pemerintah Indonesia telah membuka Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). PKBM bertujuan untuk menampung masyarakat yang putus sekolah, maupun yang tidak lulus saat mengikuti Ujian Nasional (UN) melanjutkan pendidikan baik Paket A, B dan C.  Ijazah yang dikeluarkan PKBM resmi diakui Pemerintah dan diperbolehkan melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi, hal itu dikatakan Pengamat pendidikan Tigor TP.

Tetepi kenyataan dilapangan, masih ada perguruan tinggi yang tidak menerima calon mahasiswa yang menggunakan Ijazah Paket C tersebut, seperti yang terjadi di Universitas Bhayangkara (Ubhara) Jakarta yang ada di Bekasi.  
Salah seorang calon mahasiswa, Palti Jeremia Alexander (21), remaja yang ingin baru lulus ujian kesetaraan paket C, hendak melanjutkan pendidikanya di Universitas Bhayangkara (Ubhara) Jakarta yang ada di Bekasi Utara, harus pupus di tenggah jalan, hal ini dikarenakan pihak kampus menolak Jeremia yang hanya mensyaratkan legalisir Ijazah Paket C.

Orang tua Jeremia, Rosmarini mengaku sangat tertarik dengan Kampus Ubhara yang memiliki mutu pendidikan yang cukup bagus sebagai tempat anaknya melanjutkan kuliahnya. Namun begitu, wanita berkacamata ini sangat kecewa dengan proses penerimaan mahasiswa baru yang dinilainya terlalu ketat dan mengacu kepada aturan internal kampus.

“Saya waktu itu daftarkan anak saya tanggal 2 Agustus, karena ijazah belum keluar saya hanya menyertakan surat keterangan lulus dahulu,”ucap Rosmini dengan nada kecewa.

Untuk meyakinkan pihak kampus, Kata Rosmarini, dirinya sempat membawa foto copy yang telah di legalisir pihak PKBM tempat anaknya mengikuti ujian paket C. Tindakan ini dilakukan Ros dikarenakan Ijazah belum keluar dan berbarengan dengan Surat Hasil Ujian Nasional (SHUN).

“Karena memang Ijazah belum diberikan, saya inisiatif foto copy dulu disertai legalisir,”kata Ros.

Namun demikian, usaha Ros ini rupanya tetap tidak di gubris pihak kampus. Bahkan Ros pun sempat diberitahu bahwa, pihak kampus memiliki proseduran dan aturan sendiri dalam penerimaan mahasiswa baru.

Masih menurut Ros, saat itu kampus bersih kukuh bahwa sesuai dengan surat keputusan Universitas Bhayangkara Nomor : SKEP/054/VII/2016/UBJ, yaitu, tentang keputusan penerimaan mahasiswa baru status kelulusan program kesetaraan paket C.

“Pemerintah saja sudah mengakui bahwa Ijazah kesetaraan memiliki kesamaan dengan ijazah sekolah pada umumnya, dan banyak kampus yang menerima ijazah paket C,”tegasnya.

Tidak mau berdiam diri, dan mengginginkan anaknya bisa kuliah di kampus yang menjadi pilihan favorit pertamanya, Ros pun tidak berdiam diri. Ia beserta dengan kakaknya menghadap dengan Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) 3 di Jakarta Timur.

“Sebagai orang tua tentunya saya ingin yang terbaik bagi anaknya, saya pun  ke Kopertis 3 waktu itu,”jelasnya.

Setelah menghadap ke Kopertis 3, lanjut Ros, dirinya putus asa, karena pihak Kopertis menindaklanjuti dengan menyurati pihak kampus Ubhara untuk menerima calon mahasiswa baru yang menggunakan ijazah kesetaraan paket C.

Akan tetapi, kata Ros pihak Ubhara pun melayangkan surat balasan ke Kopertis 3 bahwa pihak Ubhara sebenarnya menerima calon mahasiswa dengan Ijazah Paket C.

“Cuma setelah saya lihat bahwa yang diterima itu harus menunggu satu tahun baru bisa kuliah disini,”paparnya.

“Masa harus tunggu 1 tahun lagi baru bisa diterima,”ketusnya lagi.

Dengan kejadian ini, Ros mengaku sangat kecewa dengan kampus Ubhara. Melihat kejadian ini, ia ingin memberikan pesan kepada pihak kampus agar bisa lebih longgar dalam penerapan aturan dan tidak terlalu baku menerapkannya.

“Cukup terjadi untuk anak saya saja, ini pun sebagai informasi kepada masyarakat bahwa memang faktanya seperti ini (sulit) untuk masuk kampus Ubhara,”jelasnya lagi.

Untuk menjaga keseimbangan informasi, beberapa awak media pun berupaya menemui pihak Wakil Rektor 2 Kampus Ubhara. Saat berada di depan ruangan yang terpampang plang nama Wakil Rektor 2 yang pintunya terbuka namun tak terlihat sosok Wakil Rektor 2 tersebut.

Namun demikian, terdapat salah satu staf di depan ruangan Wakil Rektor 2 yang bernama Indah. Saat ditanyai keberadaan Wakil Rektor 2, wanita ini mengatakan, wakil Rektor 2 sedang keliling kampus.

“Lagi keliling kampus mas tadi,”ucapnya singkat.

“memangnya mas dari mana, ada keperluan apa ya,”tanyanya kepada awak media.

Saat diyakinkan bahwa kami ingin mengkonfirmasi terkait masalah yang menimpa Ros dan anaknya, Indah pun berkomunikasi dan mengkontak pihak Wakil Rektor 2.

“Barusan beliau bilang lagi di luar mas,”pungkasnya. (Ely/Martinus).