Larung Sembonyo, Tradisi Eksotis Nelayan Popoh

Iklan Semua Halaman

.

Larung Sembonyo, Tradisi Eksotis Nelayan Popoh

Sku Metropolitan
Minggu, 16 September 2018



TULUNGAGUNG, METRO- Ratusan orang menyerbu gunungan tumpeng berisi buah-buahan di dermaga Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Popoh, Desa Besole, Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung, Selasa (11/9).


Tradisi Larung Sembonyo ini dilakukan nelayan Pantai Popoh setiap tahun baru dalam penanggalan Jawa atau yang dikenal dengan bulan Suro. Nelayan berharap dengan melarung sesaji ke tengah laut dan juga menggelar kenduri, hasil tangkapan nelayan semakin melimpah.

Prosesi ritual Larung Sembonyo ini sudah di mulai sejak hari Senin (10/9), dengan acara hiburan di pendopo Teluk Popoh. Kemudian dilanjutkan dengan selamatan, rebutan gunungan hasil bumi, Larung Sembonyo. Lomba tangkap Itik dan disudahi dengan balap kunthing (perahu kecil).

 
Labuh laut selama ini memang identik dengan masyarakat nelayan. Namun karena di pantai Popoh juga hidup masyarakat petani, mereka juga ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. “Kegiatan ini sudah berjalan turun temurun dari nenek moyang dulu,” kata Sumaryanto, ketua panitia Larung Sembonyo.

Semantara itu belasan kapal nelayan ikut mengantarkan persembahan berisi aneka sesaji yang dibawa perahu kecil ke tengah laut, di dalamnya ada tumpeng nasi, ayam lodho, kepala kambing, kembang setanan dan aneka sesaji lainnya.

Aneka sesaji itu kemudian di tenggelamkan di mulut teluk popoh, para nelayan kemudian mengambil air di sekitar lokasi penenggelaman sesaji ini, dan disiramkan ke kapal mereka. Cara ini diyakini sebagai simbol bahwa kapal mereka telah di berkahi, sehingga ke depan hasil tangkapan mereka akan melimpah.

Biaya dari ritual Larung Semboyo, kata Sumaryoto, berasal dari iuran swadaya warga yang sudah dikumpulkan sejak awal suro tahun lalu. “Biaya berasal dari swadaya warga yang dikumpulkan sejak awal suro tahun lalu,” katanya kepada Metropolitan. (Sar)