Ganti Rugi Lahan Tol Cibitung-Cilincing , Kades Minta Warga Jangan Dirugikan

Iklan Semua Halaman

.

Ganti Rugi Lahan Tol Cibitung-Cilincing , Kades Minta Warga Jangan Dirugikan

Senin, 11 Februari 2019


METRO,KAB.BEKASI- Nilai Harga ganti rugi pembebasan jalan tol cibitung-cilincing di Desa samudera jaya,kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi dinilai tidak layak dan tidak adil. Hal tersebut dikeluhkan salah satu warga Desa Samudra jaya Wong Hasim Sudiro kamis (7/2).

Menangapi itu, Kepala Desa Samudera Jaya Ibnu Hajar ganti rugi pembebasan jalan tol cibitung-cilincing di Desa samudera jaya,kecamatan Tarumajaya Kabupaten meminta agar warganya jangan sampai ada yang dirugikan.

Menurutnya, adanya persoalan perbedaan nilai harga ganti rugi yang dilakukan oleh Badan pertanahan Nasional terhadap pemilik tanah Wong Hasan Sudiro adalah karena cara pandang yang berbeda.

“Dimana si pemilik dberpikir bahwa lahanya yang dimilikinya walapun berbeda galangan dengan yang lain ataupun berbeda surat akan tetapi merupakan satu hamparan yang sama,” ucapnya kepada SKU Metropolitan melalui celluler, minggu ( 10/2).

Lanjutnya, akan tetapi kalau team Appreasial BPN Nilai harga ganti rugi pembebasan jalan tol cibitung-cilincing menilinya perbidang, “Sbab berbicara bidang ketika ada surat yang berbeda, maka menurut team Appresial bahwa itu bidangnya lain,” terang Ibnu.

“Jadi tidak ada titik temu atara pemilik lahan dengan team appresial BPN,” kata Ibu Hajar

Ibnu Hajar Juga mengatakan bahwa memang dalam hal ini (red-Nilai harga) secara material sipemilik dirugikan ,sebab lahan yang depan dan belakang sama saja karena lahan masih satu hamparan (lokasi).

Diberitakan sebelumnya di media online skumetropolitan.com .Nilai harga ganti rugi pembebasan jalan tol cibitung-cilincing di Desa samudera jaya,kecamatan Tarumajaya Kabupaten oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Bekasi dinilai tidak layak dan tidak adil.

Demikian hal tersebut dikeluhkan salah satu warga Desa Samudra jaya Wong Hasim Sudiro kepada Wartawan SKU Metropolitan kamis (7/2).

"Harga pasaran tanah sudah mencapai Rp.2,5 jt per meternya, apalagi lokasi lahan tersebut berada  di pingir jalan . namun nilai ganti rugi dari diajukan oleh BPN Kab.Bekasi hanya Rp 980.000," ucap Wong Hasim.

Selain dinilai harga ganti rugi yang tidak layak dengan harga pasaran yang ada sekarang ini, Wong Hasim justru menemukan perbedaan nilai harga ganti rugi pembebasan salah satu warga  sebesar Rp 1.680.000 yang hanya beda pembatas dengan  gadengan (jalan sawah)  dengan lahan miliknya.

"saya merasa di rugikan atas nilai ganti rugi pembebasan lahan yang dilakukan oleh BPN yang jauh lebih rendah dengan lahan orang yang hanya beda perbatasan galengan (jalan sawah)," ucap Wong Hasim.

Atas harga ganti rugi pembebasan lahan  miliknya dinilai tidak layak dan tidak adil   oleh BPN maka Wong Hasim mengatakan meminta bantuan Lembaga Aliansi Utara (ALU) melalui Andriansyah dan M.Siswanto.

Sementara, Kordinator Lapangan Lembaga Aliansi Utara (ALU)  M.Siswanto menyapaikan atas ketidak adilan yang di alami oleh Wong Hasim Sudiro atas ganti rugi pembebasan lahan,pihaknya (red-ALU) telah minta penjelasan kepada pihak PT waskita Karya 

"Namun oleh PT. Waskita Karya  meminta team dari ALU terkait nilai harga ganti rugi lahan agar menemui pihak penyelenggara pembebasan yaitu team appresial BPN,"  Siswanto
.
Selanjutnya, atas arahan dari pihak PT.Waskita Karya ,"ALU mencoba  mengirimkan surat kepada BPN Kabupaten Bekasi meminta klarifikasi tentang nilai ganti rugi lahan atas nama warga Wong Hasim Sudiro,"ucapnya.

Akan tetapi  Siswato menuturkan, tidak ada jawaban hingga kini dari  BPN.

"Karena tidak mendapatkan respon baik dari BPN sehingga kini Pihaknya melakukan  pemagaran terhadap lokasi lahan tersebut guna mengatisipasi terjadinya penyerobotan sepihak,"ungkapnya.

"Dari sinilah ada pembelajaran yang bisa di kutip, bahwa sebelum dilakukan pembebasan lahan team appresial dari BPN melakukan kordinasi dan mensosialisikannya terlebih dahulu sehingga tidak ada ketimpangan (perbedaan harga) nilai ganti rugi," tegasnya. (Hidayat/Doy).