Sidang Suap Perizinan Meikarta, Anggota DPRD Buka Suara

Iklan Semua Halaman

.

Sidang Suap Perizinan Meikarta, Anggota DPRD Buka Suara

Kamis, 07 Februari 2019

Caption Fhoto ; Anggota DPRD Kab Bekasi Soleman saat memberikan kesaksian sidang suap Perijinan Meikarta di di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Rabu (6/2/2019)



METRO, BANDUNG – Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap fakta baru dalam persidangan perkara suap perizinan megaproyek Meikarta, mengenai besaran uang yang diduga diterima Iwa Karniwa selaku Sekretaris Daerah (Sekda) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat, Rabu (6/2).

Fakta baru itu terungkap, dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Anggota DPRD Kabupaten Bekasi, Solaeman yang disebut-sebut ikut dalam pertemuan awal dengan Iwa mengenai dugaan permintaan uang sebesar Rp 3 miliar dan bukan Rp 1 miliar seperti yang ramai diperbincangan pada proses persidangan sebelumnya.

Dalam persidangan itu, Soleman mengaku dihubungi Hendry Lincoln selaku Sekretaris Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Bekasi, untuk diminta bantuannya menemui Waras Wasisto yang merupakan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat.

Soleman pun, langsung menghubungi Waras hingga terjadi pertemuan antara Soleman, Waras dan Hendry di KM-39 Tol Cipularang. Turut hadir dalam pertemuan itu, Kepala Bidang Penataan Ruang PUPR Pemkab Bekasi, Neneng Rahmi Nurlaili.

“Apa yang dibicarakan saat itu?,” tanya Jaksa KPK kepada Soleman. Saksi pun menjawab “Saya nggak tahu, karena bicara bertiga,” jawab Solaeman sambil memegang mikropon di ruang persidangan Tipikor Bandung.

Setelah itu, sambung Soleman, sekitar 2 pekan kemudian kembali terjadi pertemuan di Tol Cipularang KM-72. Kali ini, Iwa Karniwa turut hadir dalam pertemuan tersebut. Namun, Soleman lagi-lagi mengaku tidak tahu isi pembicaraan dalam pertemuan tersebut.

Soleman mengakui bersama Waras tidak mengikuti pertemuan, tetapi hanya menunggu diluar ruangan. Sedangkan yang terlibat dalam pembicaraan yakni, Sekda Jabar, Iwa Karniwa, Neneng Rahmi dan Hendry Lincoln.

“Pada saat Neneng Rahmi dan Hendry Lincoln pulang, Pak Iwa Karniwa mengatakan “Ada titipan tuh nanti buat bikin ‘banner’,” ungkap Soleman menirukan ucapan Iwa Karniwa.

Soleman pun membeberkan, ada pertemuan lanjutan di Gedung Sate. Soleman menyebut, pertemuan kembali diikuti Hendry Lincoln, Neneng Rahmi dan Iwa Karniwa. Namun lagi-lagi Solaeman mengaku tidak tahu isi pertemuan karena berada di luar ruangan.

“Ketika keluar disampaikan (oleh Neneng Rahmi) ini kaitan RDTR (Rencana Detail Tata Ruang) yang rekomendasi Gubernur,” bebernya.

Dikatakan Solaeman, setelah itu ada kode “TIGA” yang disampaikan Sekda Jabar Iwa Karniwa. Pada saat itu, Solaeman mengaku tidak tahu maksud dari kode itu. “Saat itu ada kode ‘TIGA’ dari Pak Iwa, yang saya dengar dan Pak Waras,” kata Soleman.

“Bagaimana kodenya?” tanya Jaksa KPK kepada Solaeman, “Itu nanti ada pemberian banner ke kita ya, sekitar “TIGA”. Nah, tiga itu, nggak paham apa?,” jawab Soleman lagi.

Jaksa pun, membacakan Berkas Acara Pemeriksaan Soleman yang isinya Solaeman mengakui kode “TIGA” berarti diduga uang Rp 3 miliar. Namun Solaeman mengaku mengetahui maksud kode itu setelah menjalani pemeriksaan di KPK.

“Izin, saya ralat. Saat itu, di penyidikan itu komunikasi saya dan Neneng. Saya bilang, ‘Bu tegaskan lagi dengan Pak Waras, betul nggak ada komitmen “TIGA”. Nah, sampai sekarang saya nggak tahu apa, “TIGA” itu apa,” ulas Soleman.

Namun Jaksa KPK bahkan hingga Majelis hakim mempertanyakan kejelasan hal itu kepada Soleman karena keterangannya berbeda dari BAP. Soleman pun pada akhirnya menyebut Rp3 miliar itu merupakan perkiraannya karena ada “TIGA” kali pemberian.

“Ini betul keterangan Saudara? Keterangan Saudara benar atau nggak?” tanya Majelis hakim. “Benar. Tapi saya nggak tahu “TIGA” ini berapa,” ulas Soleman lagi.

Ini bagaimana tambah Majelis hakim, di BAP, keterangan Saudara nanti akan dikonfrontir dengan saksi lain?,” tegas hakim lagi. “Perkiraan kami Rp 3 miliar. Karena ada pemberian uang sampai 3 kali,” pungkas Soleman (Red/Martinus).