Jajaran Polres Dilaporkan ke Propam Polri dan Kompolnas

Iklan Semua Halaman

.

Jajaran Polres Dilaporkan ke Propam Polri dan Kompolnas

Sku Metropolitan
Sabtu, 02 Maret 2019




JAKARTA, METRO- Jajaran anggota Polres Subang, Jawa Barat, dilaporkan ke Divisi Propam Polri Markas Besar Kepolisian RI (MABES POLRI) dan Komisi Kepolisian Nasional (KOMPOLNAS) atas dugaan ketidakprofesionalan dalam menangani suatu kasus.

Kasus itu berkaitan dengan adanya indikasi salah tangkap atas nama Josep Sitorus, Rycmon Edoard Panjaitan dan Hilman Nainggolan alias Jahormat atas laporan polisi nomor LP-B/436/X/2018/JBR/SBG dan LP-B/437/X/2018/JBR/SBG tanggal 08 Oktober 2018.

Demikian hal tersebut disampaikan oleh kuasa hukum korban Dr. Manotar Tampubolon SH, MA, MH, usai melaporkan pihak yang berwajib ke Divisi Propam Polri Markas Besar Kepolisian RI (Mabes Polri), Rabu ( 27/2).

Kasus yang dilaporkan dilatarbelakangi atas aduan berdasarkan dugaan pelanggaran kode etik Polri (Perampasan Barang, Penganiayaan dan Dugaan Kriminalisasi) oleh penyidik di Polres Subang, Jawa Barat, kata Manotar kepada awak media saat melakukan komprensi pers di Cawang-Jakarta Timur.

Manotar menyebutkan, bahwa anggota Polri dari Polres Subang, Jawa Barat, yang dilaporkan adalah mulai dari Kapolres, Kasat Reskrim, Kanit Reskrim dan 16 orang anggota penyidik dan penyidik pembantu yang diduga melakukan pelanggaran kode etik.

Perbuatan aparat dinilai tidak manusiawi kepada kliennya Hilman pada saat dilakukan penangkapan pada dini hari tanggal  8 Januari 2019, sedangkan  terhadap Rycmon Panjaitan dan Josep Sitorus usai ditangkap tanpa menunjukkan surat perintah penangkapan  dengan cara menyergap di pintu tol Cikarang pada saat mau pulang kerumahnya, tutur Manotar.

Atas tindakan aparat tersebut Manotar meminta kepada Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian untuk melakukan tindakan tegas terhadap oknum-oknum anggota Polres Subang yang telah melakukan penyiksaan dan memaksa kliennya mengakui perbuatan yang tidak dilakukan. Saya yakin bahwa dalam SOP kepolisian tidak ada  tindakan yang seperti itu, ala-ala PKI,” ucap Manotar.

Menurut Manotar, bahwa Hilman Nainggolan dituduh menjadi pelaku pembongkaran Alfa Mart di Subang dan dianiaya dan dipukuli mulai dari Karawang hingga ke Polres Subang. Penganiayaan itu berlanjut hingga di Polres Subang, penganiayaan itu  disaksikan oleh  Josep Sitorus dan  Rycmon Panjaitan.

“Klien kami tidak mengetahui apa yang dituduhkan kepadanya namun akhirnya mengakui karena para terlapor mengacam akan menangkap semua saudara dan istri jika tidak mengaku,” ujar Manotar.

Manotar mengatakan, bahwa dirinya sempat bertemu dengan salah satu tersangka yang benar- benar melakukan perampokan Alfamart. Usut punya usut, pelaku bermarga yang sama dengan klienya, kemudian tanpa alasan yang jelas, polisi diduga melakukan penangkapan tanpa memberitahukan kepada keluarga.

“Mereka ditangkap karena marga yang sama. Tidak pernah ke Subang, tapi dituduh melakukan pembobolan. Disamping itu, adanya tindakan perampasan  barang emas seberat 30 gram oleh polisi dan hingga saat ini keberadaan kalung tersebut tidak diketahui keberadaannya,” ungkap Manotar.

Sementara klennya atas nama Rycmon dan Josep usai ditangkap dan disiksa serta ditahan kurang lebih dua hari. Atas hal tersebut diatas, tindakan jajaran aparat, Manotar meminta bahwa atas tindakan yang telah merugikan hak klienya sebagai korban melakukan pemanggilan dan pemeriksaan kepada  para jajaran Polres Subang yang dilapornya dan memutasi para aparat dari jabatannya selaku penyidik karena dianggap tidak mampu dan tidak profesional dalam melakukan tugas sebagai anggota Polri yakni pelayan dan pengayom masyarakat(Dapot/Martinus)