Bupati Segera Evaluasi Kinerja Pejabat, Beberapa Gedung Sekolah Rusak

Iklan Semua Halaman

.

Bupati Segera Evaluasi Kinerja Pejabat, Beberapa Gedung Sekolah Rusak

Sku Metropolitan
Minggu, 16 Juni 2019
gedung SDN Banjarsari 02 Kecamatan Sukatani


BEKASI, METRO- Infrastruktur pendidikan yang tidak layak masih ditemukan di sejumlah daerah di Kabupaten Bekasi. Beberapa sekolah yang rusak yang ditelusuri Wartawan SKU Metropolitan, antara lain, SDN Mangunjaya 04 Kecamatan Tambun Selatan, SDN Banjarsari 02 Kecamatan Sukatani, bahkan ada pembangunan sekolah dasar yang pembangunannya mangkrak sejak tahun 2015, hingga berita ini dibuat belum ada kelanjutan pembangunan.
SDN Mangunjaya 04

Jika melihat setiap ruang kelas kondisinya cukup memprihatinkan. Sebagian besar kondisi lantai terkelupas, perabotan sekolah seperti kursi bangku juga banyak yang rusak, lemari tempat menyimpan buku pelajaran juga tidak bisa digunakan.

Tidak hanya itu, kondisi bangunan yang ambruk tahun 2014, belum dibangun, bebarapa ruangan belajar yang sebelumnya lantainya kramik, terkelupas hanya tinggal tanah.

Menurut Hasan guru SDN 02 Banjarsari, gedung sekolah ini ambruk sekitar tahun 2014, pihak sekolah telah mengajukan perbaikan, tetapi belum terlaksana, mungkin tahun ini akan ada pembangunan, karena sudah diajukan kembali saat  Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang)   di Kantor Desa awal tahun 2019, katanya, Rabu (12/6) di halaman sekolah.

Ketua DPC LSM Grasi, Malau, ketika diminta tanggapannya tentang sarana pendidikan yang rusak di kota penyangga Ibu Kota Negara ini menuturkan,  pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menyediakan pendidikan yang berkualitas untuk masyarakat.

"Masyarakat juga memiliki hak untuk memeroleh pendidikan, dan negara dalam hal ini pemerintah berkewajiban untuk memenuhinya," katanya.

Pemerintah, lanjutnya, seharusnya tak perlu memperhitungkan keberimbangan siswa yang masuk dengan biaya yang dikeluarkan untuk operasional sekolah itu.

Pasalnya, sekolah itu merupakan fasilitas publik, bukan sebagai ajang bisnis. Jika pemerintah menghitung untung rugi sekolah itu, maka akan melanggar ketentuan dalam UUD 1945.

Padahal, sekolah tersebut dibiayai melalui APBD yang merupakan dana masyarakat. Tentu masyarakat berhak mendapat yang terbaik atas dana yang dikelola pemerintah.

Kami menyayangkan pembiaran yang dilakukan Pemda Kabupaten Bekasi, Dinas Pendidikan, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan (PUPR) dan OPD terkait lainnya terhadap kondisi fisik sekolah itu.
Jika kondisi fisik sekolah bagus, pasti akan banyak orang tua yang menyekolahkan anak mereka ke sekolah itu.

Ia menambahkan, setiap tahun Pemda melakukan Musrenbang. Sekolah itu bisa dijadikan program prioritas pembangunan.

"Yang terjadi sekarang sungguh disayangkan. Pemerintah alpa dengan kewajiban mereka untuk menciptakan pendidikan berkualitas," pungkasnya.

Tentu keadaan ini berbanding terbalik dengan mereka, para wakil rakyat yang duduk di kursi pemerintahan. Pendidikan tinggi mereka dapatkan. Jabatan pun mereka dapat. Tapi sayangnya, sebagian dari mereka tidak bisa menghargai pendidikan yang telah didapatkannya. Pendidikan yang mereka miliki telah ternoda dan tercoreng karena ulah mereka sendiri. Nafsu mereka akan kehidupan duniawi hingga memakan uang haram,  Korupsi, tuturnya.

Menurutnya, Pemerintah yang membidangi pembangunan di Kabupaten Bekasi tidak mampu menggunaka anggaran, hal itu terbukti dengan banyak nya sisa anggaran atau Silpa hingga Triliunan rupiah. Kalau dan tersebut dialokasikan untuk pembangunan sarana pendidikan sudah puluhan sekolah bisa dibangun.

Kami mengharapkan Bupati Bekasi, Eka Supria Atmaja, yang baru dilantik mampu meningkatkan pembangunan infrastruktur Pendidikan. Apabila pejabat yang membidangi pembangunan tidak mampu menjalankan tugasnya, segera dilakukan evaluasi, ujar Malau.

Sementara itu salah seorang orang tua siswa SDN 04 Mangunjaya, Lemeria mengatakan, sangat miris melihat kondisi bangunan sekolah tempat anaknya menuntut ilmu. Gedung ruangan belajar yang baru diperbaiki sekitar tahun 2015 karena abruk, kondisi sekrang sudah mau ambruk lagi, beberapa ruangna belajar sdudah tidak dipakai lagi karen takut aambruk lagi.

"Heran juga saya, ini di Bekasi yang disebut kita Industri terbesar di Asean kok gak diperhatikan. Kami selalu was- was terhadap anak, dikwatirkan bermain di dekar gedung yang sudah melengkung itu, "ungkapnya. (arnol)