Pembunuh Keluarga Diperum Nainggolan Divonis Mati

Iklan Semua Halaman

.

Pembunuh Keluarga Diperum Nainggolan Divonis Mati

Sku Metropolitan
Rabu, 31 Juli 2019


BEKASI, METRO- Pelaku pembunuhan  sadis terhadap  4 korban sekeluarga di jalan Nangka , Rt.06/Rw.07,  Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, terjadi pada  Senin 2 November  2018  sekitar  pukul 23.30 Wib. Akhirnya  majelis hakim Pengadilan Negeri Bekasi menjatuhkan vonis mati terhadap pelaku Haris Simamora.

Sidang berlangsung 31 Juli 2019 atas perkara pidana pelaku pembunuhan sekeluarga  pada Pengadilan Negeri  Bekasi oleh Ketua Majelis Hakim Djuyamto, masing-masing anggota, Sofia Marlianti Tambunan dan Muhammad Anshar Madjid dalam amar putusannya mengatakan, bahwa terdakwa Harry Ari Sandigon alias Haris Simamora terbukti secara sah dan menyakinkan melakukan pembunuhan berencana dan pencurian pemberatan  sesuai amanat pasal 340  dan 363 KUHP.

Hal ini sependapat dengan jaksa penuntut umum pada Kejaksaan Negeri Bekasi bahwa sidang-sidang sebelumnya terdakwa Haris Simamora dituntut dengan tuntutan mati, atas perbuatan terhadap  para korban Diperum Nainggolan dan istrinya Maya Ambarita serta kedua anaknya Sarah Nainggolan dan  Yehezkiel Arya Paskah Nainggolan.

 Djuyamto menyebutkan, bahwa Haris Simamora melakukan pembunuhan terhadap para korban, awalnya terdakwa Haris datang ke rumah korban Diperum Nainggolan sekitar jam 20.30 Wib. Karena korban tidak berkenan nginap dirumahnya, sehingga korban Diperum dengan nada keras menyuruh Haris tidur diruang belakang . "Kau tidur aja dibelakang, sama saja kau seperti sampah" (bahasa daerah), terdakwa Haris pergi kebelakang sekaligus minum teh, dan duduk dikursi makan sambil merenung ucapan korban Diperum sekitar 15 menit.

Pada saat itu terdakwa Haris melihat linggis ada dibawah wastapel,  langsung mengambil linggis tersebut dan menghampiri korban Diperum dan istrinya diruang tamu yang sedang nonton TV sambil tiduran. Terdakwa Haris langsung menghajar Diperum Nainggolan dibagian kepala, mendengar suara tersebut istri korban Maya Ambarita terbangun sambil berkata, Ris apa kau lakukan, terdakwa Harris langsung mengayun linggis dibagian kepala korban Maya Ambarita dan tidak bangun lagi.

Kedua anak korban yang berada di kamar datang keruang tamu, langsung terdakwa menyuruh kedua  anak itu untuk masuk lagi kekamar tidur. Karena tidak mau terdakwa Haris menuntun anak itu ke kamar dan langsung menyuruh tidur sambil menyelimuti kedua anak tersebut , kemudian mencekik kedua anak itu, satu-persatu dari luar selimut hingga tak bernyawa.

Setelah menghilangkan nyawa kedua anak tersebut, kemudian terdakwa Haris mengambil linggis dan mencucukkannya kepada korban Diprum dan Maya, masing-masing tiga kali dibagian leher sehingga rumah tersebut banjir darah.

Lebih lanjut Djuyamto mengatakan, setelah perbuatan itu selesai, kemudian terdakwa Haris mengambil uang senilai dua juta rupiah, 4 hand pone, satu unit mobil beserta kunci yang dijadikan sebagai barang bukti dikembalikan kepada yang berhak.

Pertimbangan  majelis hakim dalam amar putusannya,mengatakan bahwa alasan -alasan untuk meringankan atau pemaaf tidak ditemukan, karena sesuai fakta  dalam persidangan  selama ini kebanyakan perbuatan pemberatan, karena membuang linggis ke Kalimalang di Cikarang dan  karena ikut terbunuhnya isterinya dan kedua  anak sehingga dua generasi telah habis. Atas vonis mati yang dijatuhkan pada terdakwa, melalui pengacara terdakwa menyatakan   banding.

Usai persidangan, keluarga korban Naingolan mengatakan sangat puas mendengarkan putusan Majelis Hakim tersebut. Putusan mati itu sudah layak dia dapatkan, masa tega-teganya bunuh anak, celotehnya dengan nada kesal. (beres)