PJB Muara Tawar Bersama Zie Batik Adakan Pelatihan di Kampung Babe

Iklan Semua Halaman

.

PJB Muara Tawar Bersama Zie Batik Adakan Pelatihan di Kampung Babe

Sabtu, 20 Juli 2019

BEKASI,METRO- PT. Pembangkitan Jawa-Bali (PJB) Unit Pembangkitan (UP) Muara Tawar bersama Zie Batik Semarang bekerja sama memberikan pelatihan kepada warga  di Kampung Babe (Batik Betawi) Kebon Kelapa Desa Segara Jaya Tarumajaya  dalam pemanfaatan limbah mangrove menjadi pewarna batik. 

Pelatihan tersebut dilaksanakan pada tanggal 15-20 Juli 2019, karena proses pewarnaan batik dengan bahan alami jauh lebih lama dibandingkan dengan proses pewarnaan dengan bahan sintetis. 

Selama pelatihan, kelompok pengrajin yang berjumlah 10 orang diajak mengenal jenis-jenis pewarna batik berbahan alami yang sebenarnya berada di sekitar kita yaitu Jelawe, Indigo, Tingi, Tunjung, dan yang belum banyak digunakan adalah Mangrove, Hal itu dikatakan staf PJB Muara Tawar, Awang , saat mendapingu pelatihan perwarna Batik, sabtu (20/7).

Dikatakan Awang, Jenis mangrove yang digunakan untuk membuat pewarna batik adalah jenis mangrove Propagul yang sudah dikeringkan agar dapat mengeluarkan warna coklat. 

"Pelatihan ini bertujuan agar kelompok pengrajin batik lokal mampu memanfaatan sumber daya mangrove di desanya untuk dijadikan pewarna batik," ujarnya.
  
"Hal ini tentu selain dapat menekan biaya produksi, juga mampu menambah nilai jual dari batik yang dihasilkan," imbuhnya.

Lanjutnya, Selain belajar membuat pewarnaan batik menggunakan mangrove, disela-sela pelatihan juga diisi dengan materi proses pembuatan ecoprint.

"Ecoprint merupakan teknik pemindahan pigmen warna alami daun ke media kain sutra agar menghasilkan pola yang unik," paparnya.

"Teknik batik ecoprint tergolong mudah karena hanya menggunakan daun-daun yang terdapat di sekitar kita seperti daun jati, daun jarak, daun johar, daun jenetri, daun talok, daun ketapang, dan jenis daun atau bunga yang menghasilkan warna," tambahnya.

Lebih lanjut dikatakan Awang, Meskipun bahan-bahan yang digunakan untuk membuat batik ecoprint tergolong mudah, namun penjualan satu lembar kain batik ecoprint mencapai Rp.500 ribu.

"Lamanya proses pembuatan dan kreativitas dalam menyusun pola-pola daun menjadi nilai tambah pada pembuatan batik ini," urai Awang.

Dengan demikian diharapkan adanya pelatihan ini mampu meningkatkan ragam jenis variasi batik berbahan alami dan ecofriendly. 

"Sehingga selain dapat menekan biaya produksi, pemanfaatan bahan-bahan alami di sekitar kita sebagai pewarna batik, Juga dapat mengurangi pencemaran akibat limbah pewarna batik dan berkontribusi dalam upaya penyelamatan lingkungan," pungkas Awang.(Hidayat/Doy)