Sidang Lanjutan Kasus Fitnah Ijazah Palsu Walikota Bekasi

Iklan Semua Halaman

.

Sidang Lanjutan Kasus Fitnah Ijazah Palsu Walikota Bekasi

Sku Metropolitan
Kamis, 01 Agustus 2019
Sidang lanjutan kasus dugaan fitnah dan pencemaran nama baik melalui media Informasi dan elektronik di Pengadilan Negeri Bekasi Kelas 1A Khusus, jalan Pramuka No.81, Marga Jaya, Kec. Bekasi Sel., Kota Bks, Jawa Barat, Rabu (31/7).



BEKASI, METRO - Sidang lanjutan kasus dugaan fitnah dan pencemaran nama baik melalui media Informasi dan elektronik dengan terdakwa, Syahrizal, terhadap Walikota Bekasi, Rahmat Effendi, kembali digelar di Pengadilan Negeri Bekasi Kelas 1A Khusus, jalan Pramuka No.81, Marga Jaya, Kec. Bekasi Sel., Kota Bks, Jawa Barat, Rabu (31/7).

Berbeda dengan sidang sebelumnya kini terdakwa Syahrizal didampingi Kuasa Hukum Syaiful Huda SH, Suryana Yogaswara SH, Tuti SH dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pasopati.

Syaiful Huda mengatakan,  agenda sindang hari ini menurut Majelis mengajukan saksi-saksi a de charge, adalah saksi yang meringkan dari terdakwa.

“Apakah saksi pelapor hingga ahli IT  sudah diperiksa atau belum , maka hal tersebut saya belum tau, karena kami masuk pada posisi persidangan sudah berjalan dan akan meminta, laporan jalannya pesidangan dari Panitra yang mengawal perkara ini,” kata Syaiful.

Lanjutnya, agenda yang kami tau adalah hari ini pemeriksaan saksi korban, dalam hal ini Walikota Bekasi selaku yang dicemarkan akan namanya oleh perbuatan terdakwa.

“Sebagai kuasa hukum membela hak-hak  terdakwa, hari ini tentu sesuai dengan azas azas peraturan yang berlaku, Kami sempat mengtruksi Hakim dan bertanya apakah jadi pemeriksaan saksi korban dalam hal ini pak Walikota,” tutur Syaiful.

Kata Syaiful,  bahwa Ketua Majelis menyatakan sudah dibacakan (Red-keterangan saksi korban) karena sudah dipanggil secara patut tiga kali.dan dirinya  melihat secara Formil surat surat panggilan secara patut.

“Saat dibacakan kami tidak ada, sebab kami masuk dalam proses persindangan belum lama ini,” ucap Syaiful

Syaiful sempat menanyakan hal tersebut kepada terdakwa saat ini Syahrizal, apakan sempat bertanya kepada majelis apa yang sudah dibacakan. Safrizal menyatakan ia dan Saya (Syahrizal) menyatakan menolak apa yang disampaikan tersebut.

“Seharusnya Jaksa mampu menghadirkan saksi korban untuk memberikan keterangan yang jelas dan benderang permasalah ini,” kata Syaiful.

Jadi dalam hal ini apa yang menjadi keterangan saksi korban,  dengan tidak hadirnya di bacakan BAP itu Menurut Syaiful sah-sah saja didalam perjalanan peradilan,namun intinya terdakwa menolak itu semua.

"Dasar apa menolak itu, nanti pada saat pemeriksaan terdakwa dalam persidangan berikutya,"pungkasnya.

Baca Berita : 
DPMD Bersama Polres Metro Bekasi Lakukan Pendampingan DD

Sebelum didampingi didampingi Kuasa Hukum T, Syaiful mengungkapan bahwa terdakwa sudah mengajukan saksi 11 nama, akan tetapi keputusanya ada pada Hakim,  berapa saksi yang bisa diterima dan masalah kehadiran saksi jelas adalah kewajiban terdakwa dan kuasa hukum untuk menghadirkan, ujaranya.

“Untuk sidang selanjutnya akan dilanjutkan adalah tanggal 7 agustus 2019” tutur Syaiful.

Diberitakan sebelumnya, Majelis Hakim menunda persidangan tersebut yang rencananya menghadirkan Walikota Bekasi Rahmat Effendi dan Saksi Ahli Penerjemah, dari Singapura Dan Arab Saudi, namun keduanya berhalangan hadir.

"Jadi sidang kita tunda ya, karena saksi ahli penerjemah di Singapura maunya via telekonfrens beliau. Dan itu kan perlu ruangan khusus. Nah karena secara teknis kita belum siap, makanya kita undur sidangnya," ucap Ketua Majelis Hakim, di ruang persidangan, Rabu (24/7).

Sementara itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU), Malda SH mengaku tidak tahu alasan Walikota Bekasi, Rahmat Effendi tidak hadir.

"Belum, belum ada konfirmasi. Tapi kita tetap coba lagi mengundang dia (Rahmat Effendi-red)," paparnya singkat.

Terdakwa Syahrizal, atau yang akrab disapa Rizal usai persidangan mengaku optimis dirinya akan bebas. Pasalnya, kata dia, pihak saksi korban yakni, Walikota Bekasi, Rahmat Effendi, tidak mampu memberikan data yang kuat terkait ijazahnya asli atau palsu.

"Saya cuma menunggu kebebasan aja lah," harapnya.
Sidang tersebut rencananya akan dilanjutkan pada Rabu (31/7) mendatang.

Sekedar informasi, kasus ini berawal dari cuitan terdakwa, Rizal dengan akun bernama Tuah Abdi di facebook yang berisi tudingan kepada Walikota Bekasi, Rahmat Effendi yang disebutnya memiliki ijazah palsu.

Lalu komentar Tuah Abdi tersebut dilaporkan oleh Mardani karena dianggap sebagai pelanggaran UU ITE dengan dakwaan pencemaran nama baik dan fitnah terhadap orang nomor satu di Kota Bekasi (Fthr/Martinus)