Penggelapan Bio Solar Disidangkan

Iklan Semua Halaman

.

Penggelapan Bio Solar Disidangkan

Sku Metropolitan
Jumat, 20 September 2019


BEKASI, METRO- Sidang perkara pidana PN Bekasi, yang dipimpin Ketua Majelis hakim Marper Pandiangan SH.MH, masing-masing anggota Djuyamto SH dan Moh. Amzar SH MH.
Sidang sebelumnya Jaksa Penuntut Umum (JPU) R.A Nur Rizki SH, dalam dakwaannya menyebutkan bahwa terdakwa Francisman  Silalahi (37), warga Tambun Selatan, Kab. Bekasi.
Pada hari kamis, 28/2-2019, PT. Sejahtera Agro Logistik (SAL) yang bergerak dibidang ekspedisi, melakukan kerjasama dengan PT. Dabi Biofulls (DB) yang bergerak di bidang penyaluran bahan bakar.


Selanjutnya PT. SAL menugaskan terdakwa  untuk mengambil biosolar dari Tanjung Priok sebanyak 28 ton dengan mobil truk tangki No. Pol. B 9478 UFU dan mengirimankannya ke Devo Pertamina Padalarang.

Setelah itu terdakwa bersama temannya  bernama Rado  berangkat kearah Padalarang Bandung,
Pada saat di jalan tol arah Cikampek, Rado membujuk terdakwa untuk menjual biosolar itu di Karawang, atas dasar bujukan Rado itu, terdakwa merasa tergiur hingga terdakwa mengarahkan mobilnya ke pintu Tol Dawuan Cikampek dan berhenti di salah satu gudang di Kawasan Pabrik dan disambut 3 (tiga) orang laki-laki yang telah siap untuk mengeluarkan minyak biosolar itu dengan menggunakan sebuah mesin, sehingga  muatan truk tangki  tadinya sebanyak 28 ton berkurang menjadi 17 ton dan sisanya sebanyak 11 ton.

Selanjutnya kata JPU dalam dakwaannya, bahwa dari hasil penjualan minyak Biosolar itu senilai Rp. 65 juta, pembayaran uang muka sebesar Rp 20 juta dan sisanya akan dibayarkan melalui transer sebut Rido pada terdakwa, kemudian terdakwa berpisah dengan Rado dan uang muka senilai Rp. 20 juta dibawa oleh Rido seterusnya terdakwa membawa mobil truk tangki itu kearah Bandung, namun setelah sampai di KM 113 di tol Purbalenyi, terdakwa meninggalkan mobil truk tangki itu dan pulang ke Bekasi dengan menggunakan kendaraan umum,

Akibat perbuatan terdakwa PT. DB mengalami kerugian Rp. 170 juta dan PT. SAL mengalami kerugian Rp. 7 juta.

Atas perbuatan terdakwa dijerat dengan pasal 374 KUHPidana dan atau pasal 372 KUHPidana.
Pada sidang lanjutan saksi Agus dalam keterangannya di Berita Acara Pemeriksaan (BAP) menyatakan bahwa saksi Agus mengetahui tentang kejadian pengiriman biosolar itu karena jabatannya sebagai pengawas  lapangan seperti pendistribusian, pengisian serta penerimaan minyak biosolar ke seluruh depo-depo Pertamina di Bandung termasuk ke Padalarang adalah tanggung jawab saksi Agus dibawah pengawasan dari atasannya Yayan Destianto selaku Kepala Logistik di PT. DB

Selain itu saksi Agus selalu koordinasi dengan petugas lapangan operator timbangan PT. DB bernama Agung Slamet yang memproses muatan biosolar yang berada di Kapal ke Truk Tangki B. 9478 UFU, sehingga mengtahui isi muatan truk tangki  itu seberat 28.880 Kg, namun setelah kembali ke pool menjadi 11.630 Kg, dan terjual seberat 17.250 Kg, sehingga PT. DB mengalami kerugian senilai Rp. 170 juta, sebut saksi Agus.

Ketika Majelis Hakim dan Tim Penasehat Hukum (PH) terdakwa, Cengli Malau Gunung SH, Cupa Siregar SH dan Jerri Hitler Tampubolon  SH. MH, menggali kebenaran keterangan saksi Agus yang ada di BAP. dipersidangansaksi Agus merasa kebingungan dan tidak bisa menjawab, atas sikap saksi Agus itu, PH terdakwa meminta kepada Ketua Majelis Hakim untuk memperingatkan saksi, bahwa keterangan saksi palsu bisa dijerat dengan hukum pidana, akhirnya mengakui bahwa saksi Agus disuruh oleh Kaspar Simbolon sebagai saksi dalam perkara ini, sehingga Agus diperiksa penyidik di Kantor Polsek Bekasi Utara,  Saksi Agus mengungkapkan di persidangan bahwa ia diperiksa sebagai saksi, awalnya tanya-jawab dan cerita dengan penyidik mengenai duduk perkara, kemudian oleh penyidik pembicaraan itu dituangkan dalam kertas  BAP,  setelah satu jam kemudian berkas itu disuruh penyidik untuk dibaca dan untuk  diparaf" kata saksi Agus, juga menyatakan bahwa keterangannya yang ada didalam BAP sebagian dicabut.

Namun salah seorang penasehat hukum terdakwa Cupa Siregar SH menilai bahwa perkara ini banyak keganjilan-keganjilan ditemukan, dari 4 (empat) orang saksi yang dimintai keterangannya dalam persidangan, tidak ada satu keterangan saksi yang benar-benar mampu menjelaskan peristiwa pidana terhadap terdakwa. bahkan keterangan para saksi yang satu dengan keterangan saksi lainnya tidak bersesuaian apalagi terhadap dakwaan JPU. dan tidak ada satu orang saksi yang melihat atau menyaksikan bahwa terdakwa dan truk tangki  berada di tol Dawuan Cikampek dan juga di Kawasan Pabrik  seperti yang didakwaan JPU dan juga mengenai nilai kerugian ke 2 (dua) PT. tersebut, bagaimana cara menghitungnya, harus jelas.

Cupa menambahkan kalaulah mau jujur dan adil dalam perkara pidana ini untuk mendapatkan rasa keadilan, seharusnya penyidik Polri  bisa membuktikan bahwa minyak biosolar itu dijual kemana, pembeli siapa, kawasan pabriknya dimana, pabrik apa dan begitu juga tentang harga yang dijual berapa, sebut Cupa Siregar SH dengan penuh tanda tanya. (Bresman Sirait)