Setelah Bergulir Satu Tahun, Kasus Dugaan Asusila dibawah Umur Mulai di Sidangkan

Iklan Semua Halaman

.

Setelah Bergulir Satu Tahun, Kasus Dugaan Asusila dibawah Umur Mulai di Sidangkan

Jumat, 13 September 2019
Fhoto : Penasebat Hukum, Unggul Sitorus SH


BEKASI,METRO- Setelah bergulir hampir satu tahun , kasus dugaan tindak asusila atau pencabulan masih di bawah umur dengan tersangka WMS (16) mulai disidang secara tertutup di Pengadilan Negeri Kelas 1 A Bekasi, Rabu (11/9).

Sidang perdana yang beragenda pembacaan dakwaan dan mendegarkan keterangan berlansung 3 Jam. Sidang nomor perkara Nomor: 21/Pid.Sus-Anak/2018/PN.Bks  itu  dipimpin Ketua Majelis Hakim, Togi Pardede SH dibantu hakim anggota, masing-masing Rizal Ramli SH dan Ranto Pasaribu SH. Dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yaitu Endah SH. 

Pada proses persidangan, dalam dakwaan JPU menyebutkan bahwa terdakwa WMS telah bersalah melakukan persetubuhan anak dibawah umur dan dijerat pasal 81 ayat 1 tentang Perlindungan anak dengan ancaman 15 tahun penjara atau denda Rp. 5 miliar. 

Kuasa hukum Korban, Unggul Sitorus SH bahwa kejadian itu terungkap ketika ibunda korban pulang kerumahnya sekitar pukul 16.00 Wib, melihat dari kaca dendela, WMS dan temannya berinisial P bersama putrinya berinisial CPN berada ditempat tidur putrinya.

"Melihat kejadian itu,  langsung menginterogasi CPN  dan WMS, keduanya mengaku  sebelumnya sudah pernah melakukan persetubuhan layaknya suami istri," ungkap Unggul.

Kata unggul, hal tersebut diakui oleh saksi korban CPN  dihadapan majelis dan menyebut tujuh kali disetubuhi oleh WMS 

"Saat itu komprotir Majelis hakim kepada terdakwa WMS, WMS membenarkanya," ungkap unggul. 

Disamping pemeriksaan saksi Pelapor,  Unggul mengatakan saksi pelapor (Ibu CPN) juga mengajukan permohonan kepada ketua Majelis pada saat sidang agar terdakwa WMS dilakukan penahanan. 

“Ini permohonan penahanan ya, saya pertimbangkan ini, kata hakim sambil menunjukkan surat permohonan,”papar Unggul saat diwawancara Metropolitan usai sidang di Loby PN Bekasi  Kamis (12/09/2019).

Sementara Saksi Pelapor (Ibu CPN)  mengungkapkan bahwa perkara ini cukup lama hingga 1 tahun baru bisa dilimpahkan ke kejaksaan Negeri kota Bekasi.
"Saya tidak tau kenapa perkara tersebut hingga satu tahun," ucap Saksi Pelapor. 

Akhirnya setelah didampigi penasehat hukum kata saksi pelapor, berkas perkara baru dapat diterima P. 21 oleh Kejari pada 25/07/2019 itu juga pergantian Kasi Pidum dan Kajari Bekasi.

Dirinya menyebutkan, selama perkara itu berjalan keluarganya kerap menerima teror, bahkan dirinya pernah menerima surat dari orang yang tidak dikenal yang berisikan pengancaman. Upaya damai dengan orangtua terdakwa MWS pernah dilakukan setelah kasus ini dilaporkan ke Mapolrestro Bekasi Kota. 

"Namun caranya tidak baik, bahkan terkesan menghina karena yang ditonjolkan orangtua pelaku adalah uang. Pada saat pertemuan, tanpa basa basi langsung menanyakan berapa nilainya. “Berapa nilainya, langsung saja berapa, tudepoin saja,” ujar ibu korban menirukan pembicaraan orangtua terdakwa MWS.

Lanjutnya, Pertemuanpun akhirnya bubar tanpa ada kesepakatan damai. (Beresman Sirait)

Baca Berita :
Sidang Lanjuta Syahrizal,Penasehat Hukum Menilai Perkaranya Dimasuki Politik

Penasehat Hukum Pertanyakan Integritas Hakim Dalam Persidangan