Woooo! “Pengelola SMAN 1 Setu Raup Keuntungan Dari Siswa”

Iklan Semua Halaman

.

Woooo! “Pengelola SMAN 1 Setu Raup Keuntungan Dari Siswa”

Sku Metropolitan
Selasa, 10 September 2019


BEKASI, METRO- Pungutan sumbangan komite sekolah di SMAN 1 Setu, Kabupaten Bekasi, Propinsi Jawa Barat, jutaan rupiah dikeluhkan orang tua murid. Para orang tua kelas X harus merogoh kantong untuk sumbangan awal tahun (SAT) dan uang seragam Rp 4.500.000/siswa, sedangkan kelas XI dan XII sebesar Rp.200.000/siswa untuk biaya klinik.

Pungutan tersebut diluar SPP sebesar Rp.300.000/bulan/siswa untuk kelas X dan XI, dan untuk kelas XII sebesar Rp.250.000/bulan/siswa.

Total dana yang dipungut dari orangtua siswa oleh pengelola SMAN 1 Setu dalam tahun pelajaran 2019-2020 sebesar Rp.4.334.400.000. Adapun rincian pungutan dari orantua siswa antara lain, sumbangan awal tahun (SAT) untuk kelas X dengan jumlah murid 324 orang X 2.500.000= Rp 810.000.000,- Sumbangan pembiayaan pendidikan (SPP) dengan jumlah murid 324 XRp.300.000 X 12 bulan= Rp.1.166.400.000, ditambah biaya seragam sebesar Rp.2.000.000 X 324= Rp. 648.000.000, = Rp 1.814.400.000. Kelas XI, SPP Rp 300.000 X 360 X 12 bulan= Rp 1.296.000.000, ditambah biaya klinik sebesar Rp 200.000/siswa= Rp 72.000. 000, total Rp 1.368.000.000. Sedangkan kelas XII, 360 X Rp 250.000X 12 = 1.080.000.000, ditambah biaya klinik Rp.200.000/siswa= Rp.72.000.000= Rp 1.152.000.000.

Biaya pengelolaan pembelajaran tahun 2019- 2020, belum termasuk biaya operasional sekolah (BOS) sebesar Rp.1.400.000/siswa/tahun. Total dana BOS yang diterima pengelola sekolah SMAN 1 Setu berdasarkan jumlah siswa Rp.1.400.000 X 1.044= Rp 1.461.600. 000/tahun. Total dana yang bibutuhkan untuk pengelolaan pendidikan dalam tahun pembelajaran 2019-2020, sebesar Rp 5.796.000.000.

Salah seorang orang tua siswa mengtakan, biaya pendidikan di MAN 1 Setu sangat jauh berbeda dengan beberapa SMAN lainnya yang hanya menetapkan SPP Rp.150.000/siswa/bulan. Padahal kurikulum yang digunakan untuk pembelajaran SMA adalah kurikulum 13 (kurtilas), sama dengan SMAN lainnya.

"Kenapa biaya sekolah negeri malah lebih mahal dari swasta. Nah, yang aneh kan setiap tahun siswa baru diminta uang bangunan, kok pembangunan tidak ada selesainya dan menjadi beban kami orang tua calon siswa baru. Padahal kan sekolah negeri itu dibangun dan di biayai pemerintah," katanya.

Kepala sekolah SMAN 1 Setu, Dedi Nurhadiat, ketika disambangi kekantornya, tidak ada di tempat, menurut humas SMAN 1 Setu, Kusnedi, kepala sekolah sedang tidak ada di kantor.

Kusnedi mengakui pungutan untuk biaya sumbangan awal tahun sebesar Rp 2.500.000 dan uang seragam sebesar Rp 2.000.000/siswa kelas X dan biaya klinik yang dipungut dari siswa kelas XI dan XII, sebesar Rp 200.000/siswa. Klinik sekolah bekerja sama dengan salah satu dokter dan bidan, aneh, awalnya Kusnedi menyebut dokter dari dinas kesehatan, ketika ditanya nama dokter nya, langsung menyangkal, bukan dari dinas kesehatan, salah satu dokter aja, katanya.

Ketika ditanya, dimana lokasi klinik, dia tidak bersedia menunjukkan, hanya mengatakan ada di sebelah sana, sambil menunjuk ke arah pintu masuk ruangannnya. Saat ditanya alokasi dana sumbangan awal tahun yang dipungut dari orang tua siswa, juga tidak dijawab. 

Diduga biaya operasional klinik sebesar Rp 144.000.000, dan sumbangan awal tahun dalam satu tahun pelajaran hanya untuk bancakan pengelola SMAN 1 Setu. (Dpt)

Baca Berita :
DAK Disinyalir Jadi Bancakan Kepsek

Mirissss Siswa SMPN 5 Belajar dilantai Sambil Tiduran