Limbah B3 RSUD Kota Bekasi Dipertanyakan

Iklan Semua Halaman

.

Limbah B3 RSUD Kota Bekasi Dipertanyakan

Sku Metropolitan
Rabu, 16 Oktober 2019


BEKASI, METRO- Tumbuh suburnya jumlah rumah sakit di Kota Bekasi, akan berdampak terhadap jumlah produksi limbah medis yang dihasilkan. Oleh karena itu, Limbah medis rumah sakit dikategorikan sebagai limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun. Hal itu jelas ditegaskan dalam lampiran satu Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.

Berdasarkan hasil observasi dan identifikasi LSM JEKO (Jendela Komunikasi), pengelolaan limbah B3 di rumah sakit itu sangat diperlukan, sebab jika tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan dampak yang sangat negatif terhadap kelangsungan mahluk hidup yakni terjadinya pencemaran lingkungan dan wabah berbagai jenis penyakit.

Menurut Dewan Pendiri LSM JEKO yang biasa dipanggil Bob mengatakan, dari hasil kajian  bidang investigasi dan observasi LSM JEKO menyimpulkan bahwa sistem pengelolaan Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) yang dilakukan sejumlah rumah sakit yang ada di Pemerintah Kota Bekasi, patut dipertanyakan.

Alasananya, karena yang namanya Rumah Sakit, sesuai Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit, sangat jelas dikatakan bahwa sebagai tempat berkumpulnya orang sakit maupun orang sehat dan dimanfaatkan masyarakat sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan juga memungkinkan terjadinya penularan penyakit, pencemaran lingkungan, dan gangguan kesehatan.

Atas dasar kajian bidang investigasi dan observasi LSM JEKO, maka dengan ini pengelolaan limbah B3 yang dilakukan rumah sakit pemerintah dalam hal ini RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah) Kota Bekasi, menjadi pertanyaan besar. Sebab beberapa kali tim investigasi dan observasi LSM JEKO diterjukan, belum mendapatkan laporan hasil kajian yang maksimal sesuai dengan regulasi yang ditentukan pemerintah terkait limbah B3 rumah sakit.

Seperti diketahui, limbah B3 rumah sakit memiliki karakteristik dan sifat yang berbeda dengan jenis limbah secara umum.  “Limbah B3 rumah sakit itu memiliki sifat yang tidak stabil, reaktif, eksplosif, mudah terbakar dan bersifat racun” kata Bob dalam siaran pers nya yang diterima redaksi.

Dijelaskannya, sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.56 Tahun 2015 menyebutkan bahwa rumah sakit termasuk salah satu fasilitas pelayanan kesehatan wajib melakukan pengelolaan limbah B3 yang meliputi pengurangan dan pemilahan limbah B3, penyimpanan limbah B3, pengangkutan limbah B3, pengolahan limbah B3, penguburan limbah B3, dan/atau penimbunan limbah B3.

“Berapa kilo atau ton jumlah sampah medis yang dihasilkan per triwulan atau semester dan begitu juga sebaliknya, jenis limbah padat medis dan komposisinya apa saja. Sampai sejauh ini pihak manejemen RSUD Kota Bekasi, belum mau terbuka. Anehnya, dari total anggaran sejak tahun 2017 sampai sekarang, pihak manajemen RSUD Kota Bekasi telah mengalokasikan dana APBD sejumlah  Rp 3.4 milyar lebih untuk pengolahan limbah B3 nya” tuturnya.

Yang jadi pertanyaan kami, sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.56/Menlhk-Setjen/2015 Tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun Dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Sudah ditempuh atau belum oleh pihak manajemen RSUD Kota Bekasi, tanya Bob. Menurutnya, yang sangat penting terkait pengelolaan limbah B3 di Rumah sakit itu adalah soal keberadaan dan fungsi insinerator. (dpt*)