Ambruknya Atap SMPN 02 Karang Bahagia Bukti Buruknya Pengelolaan Anggaran

Iklan Semua Halaman

.

Ambruknya Atap SMPN 02 Karang Bahagia Bukti Buruknya Pengelolaan Anggaran

Sku Metropolitan
Rabu, 20 November 2019

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bekasi, Aria Dwi Nugraha.

BERITA BEKASI – Ambruknya Atap bangunan Sekolah Menegah Pertama (SMP) Negeri 2 Karang Bahagian menjadi bukti pemerintah daerah kurang memperhatikan pengelolaan anggaran pendidikan. Insiden ambruknya gedung sekolah menjadi bukti bahwa sektor pendidikan bukan prioritas. Padahal, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) merupakan fokus pemerintahan Joko Widodo-Ma'ruf Amin dalam lima tahun ke depan.

“Peristiwa ambruknya atap bangunan SMPN 2 Karang Bahagia merupakan tamparan keras untuk Pemerintah Kabupaten Bekasi (Pemkab Bekasi) Jawa Barat,” tegas Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bekasi, Aria Dwi Nugraha pada awak media , Rabu (20/11).

Dirinya juga meminta Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bekasi dan Dinas PUPR harus bisa menjawab pertanyaan masyarakat terkait hal tersebut dan sudah sudah memerintahkan komisi III untuk sidak ke semua sekolah dan melakukan inventarisasi bangunan yang menghawatirkan.

“Sebagai wakil rakyat, saya malu dengan adik-adik kita yang masih sekolah. Saya sedih melihat kondisi begitu. Saya sudah perintahkan komisi III untuk sidak ke semua sekolah dan lakukan inventarisasi bangunan yang sudah menghawatirkan,” kata  politisi Partai Gerindra tersebut

Untuk masa mendatang, Aria minta agar pembangunan sekolah wajib dilakukan pengawasan yang ketat sebagai komitmen membangun dunia pendidikan di Kabupaten Bekasi.

“Kedepannya wajib diawasi ketat pembangunan gedung sekolah. Kualitasnya harus benar-benar diawasi bersama. Itu sebagai bentuk tanggung jawab kami membangun dunia pendidikan,” katanya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, ambruk atap Sekolah Menengah Pertama Negeri 02 Karangbahagia semenjak 04 agustus 2019. Para siswa pun terpaksa “mengungsi” di ruangan laboratorium. Ruang kelas yang ambruk itu digunakan sebagai ruang belajar reguler. Sebelum rubuh, kondisi ruang kelas memang telah memprihatikan. Rangka penyangga atap yang terbuat dari kayu itu sudah mulai lapuk. Lantaran tidak ada kelas yang tersisa, ruang itu pun terpaksa digunakan. (Ely/Martinus)

Baca Berita :
Temuan 2,7 M Transit Kerekening Pribadi BPP, Anggota DPRD Kab.Bekasi Nilai Kurang Pengawasan

Diduga 15 Titik Jaling Tidak Sesuai RAB, Dewan Minta Dipotong Pembayaran