Pengembang AGI dan Konsumen Saling Gugat

Iklan Semua Halaman

.

Pengembang AGI dan Konsumen Saling Gugat

Sku Metropolitan
Jumat, 15 November 2019

BEKASI, METRO- Diduga tidak menepati perjanjian, pengembang dan konsumen saling gugat di Pengadilan Negeri Kota Bekasi. Gugat menggugat di Pengadilan mendapat erhatian dari kalangan masyarakat.

Gugatan Wanprestasi  dalam Perkara perdata Nomor : 286/Pdt.G/2019/PN. Bks. antara PT. Mitra Graha Andalan (MGA) atau Pengembang Apartemen Grand Icon (AGI) melawan Konsumennya Sahat Roberto didampingi kuasa hukumnya Ramuddin Bagariang dan Firman Panjaitan, di Pengadilan Negeri Bekasi.

Sidang yang dipimpin Majelis Hakim Abdul Ropik SH MH, masing-masing anggota H.E Frans Sihaloho, SH MH dan Setia Rina SH MH, cukup mendapat perhatian dari pengunjung dan wartawan.

Nampaknya kuasa hukum tergugat Ramuddin Bagariang dan Agus Firman Panjaitan tidak terima atas Gugatan Wanprestasi yang diajukan PT. MGA/Pengembang AGI kepada klienya Sahat Roberto sehingga mengajukan gugatan balik (Rekovensi) untuk menuntut ganti kerugian atas perbuatan melawan hukum yang telah dilakukan oleh PT. MGA/Pengembang AGI.

Dalam gugatan Rekonvensinya menyebutkan bahwa, pertemuan yang dihadiri kliennya atas surat peringatan yang diterima pihak Pengembang AGI adalah pertemuan yang tidak bermanfaat, karena kliennya hanya ditawarkan pengembalian uang sebesar Rp. 69.000.000,- hingga Rp 130.000.000,- padahal total uang masuk yang sudah dibayarkan kliennya senilai Rp. 200.499.251,-.

PH Sahat Roberto menambahkan, alasan kliennya tidak melanjutkan cicilan karena ulah pihak pengembang AGI, yang tidak konsisten dengan perjanjian yang telah disepakati, yaitu tidak menyerahkan kunci Apertemen setelah penandatanganan Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB). Padahal, Down Paymen  ( DP) awal sebesar 30 %, tambahan DP ke-2 dan DP ke-3 serta pembayaran cicilan 3 bulan berjalan sudah dibayarkan kliennya kepada pengembang AGI.

Selain itu bahwa tindakan wanprestasi yang dituduhkan kepada kliennya adalah tindakan yang tidak berdasar dan melawan hukum. “Kami melihat ada praktik bisnis kotor dengan mengulur-ulur waktu untuk Akad Kredit dengan membuat alasan permohonan Kredit Pembayaran Apertemen (KPA) melalui Bank Mandiri ditolak, namun pihak Bank Mandiri setelah dikonfirmasi, menyatakan tidak pernah menolak permohonan atas nama klien kami,” ujar penasehat hukum Sahat Roberto dalam persidangan.

Sementara tergugat Wanprestasi Sahat Roberto mengatakan kepada wartawan, sebelum perkara gugatan perdata ini ada, saya sudah melaporkan pihak pengembang AGI ke Polres Metro Bekasi atas tuduhan penipuan, terlapor,  Andre Surya, selaku Direktur Operasional AGI, LP 1132/K/V/2019/SPKT/ Restro Bekasi Kota, tertanggal 10 Mei 2019, saya bersama beberapa saksi lainnya sudah diperiksa oleh penyidik unit Kamneg, namun belum tahu bagaimana perkembangan lanjutannya, saya baru mendapat SP2HP ke-2 yang menyebut telah melakukan pemeriksaan introgasi terhadap pelapor dan saksi-saksi serta terlapor Andre Sanjaya" ujar Sahat.

Menurut Sahat Robrto bahwa kerugian yang dialaminya atas pembelian 1 (satu) unit apartemen dari  pengembang AGI, seharga, Rp 337. 000. 000,- cara pembayaran KPA ke Bank Mandiri dan telah membayar DP serta cicilan sebesar Rp. 200.499.250,-

Selain itu pihak Pengembang AGI mengharuskan untuk menyicil langsung kepada terlapor (Andre Sanjaya), atas saran itu saya membayar cicilan selama 3 (tiga) bulan berjalan dari angsuran 24 kali, namun terlapor Andre tidak mau memberikan kwitansi dan tidak mau melakukan akad kredit, malah justru menaikkan harga unit apartemen menjadi Rp 362.000.000,- dan dengan terpaksa menandatangani PPJ B, sebut Sahat.

Kemudian secara tiba-tiba, terlapor membatalkan pembelian unit apartemen tersebut sehingga pembayaran cicilannya saya hentikan, kemudian terlapor Andre mau mengganti pembayaran sebesar Rp. 139.000.000,- dengan alasan pemotongan pajak, notaris, marketing, namun setelah di cek atas bukti pembayaran yang disebutkan Andre tersebut, tidak ada, sebut Sahat Roberto dan berharap agar hukum dan keadilan ditegakkan secara dengan benar. (Bresman Sirait)