Tinggal Digubuk Reyot , Satu Keluarga Desa Setia Asih Butuh Uluran Tangan

Iklan Semua Halaman

.

Tinggal Digubuk Reyot , Satu Keluarga Desa Setia Asih Butuh Uluran Tangan

Sku Metropolitan
Minggu, 10 November 2019


BEKASI, METRO  - Pasangan suami istri dengan tiga anak harus tinggal di gubuk reyot yang sangat tidak layak dengan dinding bilik bambu yang sebagiannya rusak parah,di Kampung Sawah RT 001/RW 002 Desa Setia Asih, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi. . Meski telah lama mendiami gubuk reot, hingga saat ini Pemerintah setempat seakan membiarkan kondisi warganya, yang hidup serba kekurangan.

Ketika dikunjungi oleh metropolitan  kondisi gubuk reyot yang ditinggali oleh keluarga wawan (38), tampak memprihatinkan. wawan hanya menutup bagian dinding tanpa bilik itu dengan kain-kainan. Bahkan, karena banyak bagian bilik yang rusak, pintu rumahnya pun tak berkunci. 

Kepada Wawan menuturkan, rumahnya sudah rusak parah sejak empat tahun silam. Dengan keadaan rumah seperti itu pasangan suami istri ini sudah tidak kaget jika ada ular masuk ke rumah meski mereka tau berbahaya.  "Sudah biasa kalau ada ular, tikus masuk ke rumah. Tapi mau gimana lagi, rumahnya juga pada bolong," tutur  Wawan, Sabtu (09/11/2019) sore. 

Dengan berlinang air mata pria ini mengungkapkan, saat musim penghujan di dalam rumahnya yang berlantai tanah selalu tergenang air hingga berlumpur hal ini akibat bocor deras dari genteng yang sudah berlubang. Bahkan menurut Wawan, musim hujan merupakan saat paling menakutkan, terlebih jika disertai angin.

"Rumah saya udah doyong, semua tiangnya keropos. Saya takut banget kalau ambruk pas kita lagi tidur. Jadi setiap hujan saya gak bisa tidur jagain anak-anak,” tutur wawan.

Sementara,  Sanawiyah mengatakan penghasilan suaminya yang berprofesi sebagai buruh serabutan begitu pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bahkan tak jarang kekurangan. Jangankan untuk memperbaiki rumah, untuk makan saja ia kesulitan. Mengerti akan keadaan suaminya, Sanawiyah akhirnya membantu suami dengan bekerja sebagai asisten rumah tangga tak jauh dari tempat tinggalnya. 

"Gimana mau betulin rumah, suami aja kadang kerja, kadang nggak. Kalau lagi ada kerjaan jadi tukang bangunan suami saya bisa dapat seratus ribu. Kalau lagi gak ada kerjaan paling juga mencari burung di sawah. Kalau gak dapat burungnya ya ngutang untuk beli makan," paparnya. 

Dari pernikahannya bersama Wawan, Sanawiyah  mengaku telah dikaruniai tiga orang anak , Anak pertama pasangan Wawan - Sanawiyah sudah berada di kelas 11 (SMK). Sementara adiknya, Bunga Amelia duduk di kelas IX SMP Negeri 2 Tarumajaya. Sedangkan Si Bungsu Muhamad Fajar mengenyam kelas VII SMP Negeri 2 Tarumajaya.
“Agar anak-anaknya tidak putus sekolah saya menjadi di  buruh cuci dirumah orang membantu suami,” tuturnya

Ia berharap , uluran tangan dan bantuan dari Pemerintah atau pihak lainnya untuk memperbaiki rumahnya meski berdiri diatas tanah negara. Bukan hanya ingin memiliki rumah layak huni, keluarga ekonomi bawah ini tidak tersentuh oleh Program Pemerintah seperti Program Keluarga Harapan (PKH) maupun Kartu Indonesia Pintar (KIP).

"Saya mohon Pak Bupati Eka bangunin rumah saya yang udah mau ambruk, rumah saya udah sering difoto-foto tapi gak pernah ada kabarnya lagi. Saya mohon banget Pak Bupati Eka," lirihnya seraya menyeka air mata. (Martinus)